Nah kembali lagi bersama saya sobat, kali ini saya
memosting alur cerpen lagi nih dengan judul yang tentunya berbeda dari postingan
sebelumnya, judulnya bisa dilihat sendiri aja nanti di bawah. Gimana?
kalian udah ada yang tersentuh belum hatinya setelah membaca postingan cerpen
kemarin. Mudah kan cara membuatnya????. Untuk memudahkan kalian
dalam membuat cerpen apalagi bagi pemula yang sama sekali belum pernah membuat cerpen
sebelumnya, sebaiknya membuat cerpen dengan berdasarkan fakta yang konkrit aja
deh! biar kalian bisa mendalami dan memudahkan saat menulis cerpen.
Emosional yang tinggi juga dibutuhkan dalam membuat cerpen. Jadi,
ya gak, harus punya pengalaman doang tok' modal embuat cerpen yang sempurna tapi kita juga
harus menjiwai dalam menulis cerpen, dan usahakan membuatnya pada saat mood
kalian bagus hehe..
MENYARANKAN aja
kok. Nah sekarang kalian lihat deh new posting saya dibawah ini, mungkin dengan
melihat alur atau pun cerpen yang saya posting saat ini akan menarik kalian
untuk berinisiatif membuat cerpen.
Sungguh Kesulitan Berada dalam Kemudahan
Pengenalan masalah : Usai pelajaran mtk berlangsung, ku tarik
tasku dari laci mejaku, segera aku dan teman-temanku berlarian pergi menuju
lab. B.inggris. Begitulah sekolahku lab,
b.inggris bisa saja di jadikan tempat untuk belajar agama islam. Ku lepas sepatuku dan masuk sembari
engucapkan salam. setelah itu aku duduk bersama deretan teman-teman
akhwatku. Tak lama terdengar suara ketua
kelas member aba-aba berdo,a sebelum pelajaran berlangsung.
Muncul masalah : Pak mu,in pun guru agama ku
memulainya dengan salam kemudian memberitahu materi apa yang akan dibahas pada pertemuan kali
ini. Aku hanya mendengarkannya tanpa
mencerna kata-katanya, sembari ku senderkan kepalaku pada dinding berwarna
cream yang mewarnai seluruh ruangan berhiaskan Asmaul husna itu. Tak lama Saat terdengar lantunan ayat yang
dibacanya hatiku langsung tersentuh dan bagaimana tidak yang di bacakannya
dengan suara merdu itu adalah surah al-insyirah, yang di salah satu ayat itu
ada ayat yang mempunyai arti sesungguhnya kesulitan ada dalam kemudahan.akupun
langsung teringat dengan masalah keluargaku.
Segera Aku mendengarkan penjelasan lebih mendalam mengenai makna dari
ayat tersebut.
Masalah memuncak : Bell tanda smua mata pelajaran telah
berakhir, aku pun segera pulang ke rumah mengendarai sepeda motor bersama
dengan kakakku Rina yang satu sekolah denganku.
Setelah sampai rumah akupun langsung masuk kamar. Tak lama terdengar suara ketukan pintu
kamarku dan ternyata setelah ku buka adalah ibuku yang memanggilku dan kakak ku
untuk berkumpul bersama. Ayahku menjelaskan tentang bagaimana jika benar-benar
rumah yang ku tinggali bersama ortu dan kakak-kakaku ini di sita, apakah siap
jika tinggal di rumah kakekku yang rumahnya dapat dibilang kurang memadai. Masalah keluargaku adalah hanya karena
warisan, dulu nenekku mewasiatkan tanah dan rumah yang ku tinggali bersama
kelurgaku ini kepada ayahku tapi keluarga dari pihak lain ternyata ada yang
tidak suka dan menggugat rumah dan tanah yang di wasiatkan kepada ayahku. Kami
semua siap jika rumah itu benar-benar disita untuk itnggl d tmpat kakek. Setelah selesai aku dan kakakku kembali ke
kamar.
Klimaks : Aku dan Kakakku langsung memasang wajah cemberut ke
kamar, tetapi setelah teringat potongan ayat al-insyiroh aku langsung berusaha
untuk tersenyum, tak lama kakakku berkomentar dan sedikit marah dengan masalah
keluarga ini tapi aku berusaha untuk menasihatinya agar dia tidak mengeluh
dengan masalah yang ada ini, karena allah gak akan nguji kita di luar btas
kemampuan kita. Aku bersama keluargaku
makan bersama dan ibuku terpancing emosi karena ayahku bilang bahwa tempat
usaha ayahku di pagar oleh pamanku sendiri.
Ibuku marah-marah dan aku berusaha untuk terus meredakan amarahnya. Tapi anehnya wajah Ayahku selalu tersenyum di
sela masalah-masalah yang di milikinya
itu, aku sangat iri dengan ayahku yang selalu tersenyum di saat senang atau
sedih. Aku sangat bangga dengan
ayahku. Tidak hanya menutup usaha ayahku
saja pamanku juga mengajak ayahku untuk ke pengadilan, hasil kebun ayahku juga
diambil. Tetapi ayahku tetap hanya diam, terkadang ada tetangga yang bilang
bahwa ayahku terlewat sabar, katanya ayahku seperti di injak-injak derajatnya
oleh pamanku. Tapi ayahku selalu saja
tersenyum.
Masalah mereda : Ayahku sudah lama tak merespon
masalah itu. Usaha ayahku pun benar-benar di tutup rapat sekarang hanya ada
satu harapan utuk mencari nafkah yaitu warung kecil-kecilan Ibuku. Akhirnya ayahku pun memutuskan untuk Utang di
Bank untuk memperbarui usaha ayahku dulu yaitu peternak ayam.
Di samping usaha, ayahku selalu berdoa. Aku sangat bangga memiliki Ayah sepertinya. Siang hari itu sangat panas, terdengar suara
ketukan pintu dari depan rumah ku yang tak asing lagi ku dengar suara itu, dan
ternyata hipotesisku benar itu adalah pamanku .
Terdengar salam yang di ulangi beberapa kali, aku pun segera membuka
pintu dan melontarkan senyuman seikhlas mungkin kepada pamanku. Ku suguhi paman ku dengan secangkir teh dan
sedikit kue kering. Aku pun memanggil
Ayahku. Setelah beberapa lama ayahku duduk
bersama pamanku, aku pun keluar dan Subhanallah
begitu senang nya aku mendengar mereka sudah bermaafan, ternyata semua ayat
Allah itu benar seperti potongan ayat surah al-insyiroh itu sesugguhnya
kesulitan ada dalam kemudahan.
Selesai : Kukuruyukkk..
ayam brkokok menyambut pagi yang indah dan aku terbangun melaksanakan sholat
subuh berjama’ah dengn keluargaku, setelah itu ayah ku memberi kejutan kepada
kami semua ayah ku akan mengajak kami
sekeluarga jalan-jalan bersama dengan paman’’ ku seluruh keluarga besarku. Rencanya kami akan jalan-jalanke pantai
sambil membakar ayam dan ikan sekaligus membaca do’a selamat di sana sebagai
wujud syukur dari perdamaian keluarga besar ayahku.
Nah ini cerpen aslinya. Silahkan duduk manis dan dibaca ya,
Sungguh Bersama
Kesulitan Ada Kemudahan
Usai pelajaran matematika berlangsung, kutarik tas dari laci
mejaku, segera aku dan teman-temanku berlari menuju Lab B.inggris. Begitulah sekolahku Lab B.Inggris bisa saja
dijadikan tempat untuk belajar Agama Islam karena didalam ruangan itu sangat
sejuk dan banyak hiasan berbau islam.
“Eh, Lia, tunggu aku dong”
“Iya cepetan, udah ada gurunya didalam
Lab” jawab Lia. Ku lepas sepatuku dan
segera aku masuk sembari mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumusalam ayo cepet masuk,
pelajaran sudah mau dimulai” jawab guruku.
Akupun segera duduk di sebelah temanku Lia. Tak lama terdengar suara ketua
kelas memberi aba-aba berdoa sebelum pelajaran berlangsung.
“Selesai”. Ucap ketua kelasku
mengakhiri do’a.
Pak Mu’in, guru agamaku
membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan di jawab dengan semangat oleh teman-teman sekelasku
kecuali aku yang pada saat itu kurang enak badan, setelah itu bapak memberi
tahu terlebih dahulu materi apa yang akan di bahas pada pertemuan kali
ini. Materi yang di bahas adalah tentang
makna dari surah Al-Insyirah. Awalnya aku
hanya mendengar apa yang di jelaskan olehnya tanpa mencerna kata-katanya, ku
senderkan kepalaku di dinding bercat putih yang mewarnai seluruh tembok berhiaskan
As-maul Husna di Lab tersebut, sambil aku bershalawat Fatih untuk menenangkan
pikiranku.
Tak
lama terdengar lantunan ayat yang dibaca guruku,
“Subhanallah” responku spontan. Ingin rasanya air mataku menetes, hatiku
langsung tersentuh mendengar tilawah surah Al-insyirah yang dibacakan oleh pak
Mu’in yang di salah satu ayatnya
memiliki makna “sesungguhnya didalam kesulitan
ada kemudahan”. Akupun langsung
teringat dengan masalah keluargaku.
Segera Aku mendengarkan penjelasan lebih mendalam mengenai makna dari
ayat tersebut.
Tak terasa, pelajaran
berakhir. Usai pelajaran berlangsung ku salami guruku dan berterimakasih
kepadanya karena telah menyadarkanku bahwa setiap masalah pastilah ada jalan
keluarnya, kemudian aku bergegas untuk pulang dengan ingatan yang terus
memikirkan makna dari potongan ayat surah Al-Insyirah itu, yang akan membantuku
terus bersabar dan tersenyum menghadapi cobaan.
Bell tanda semua mata pelajaran telah berakhir berbunyi, segera
aku ke luar gerbang menemui kakakku yang ternyata sudah menungguku daritadi.
“Kakak aja yah yang bawa motornya adek
lagi gak, enak badan nih” suruhku
“Huftt, kamu ini dek, yaudah deh sini
kuncinya biar kakak yang bawa, cepet sembuh yah adek pesek hehe”
“Ih kakak jahat, adekmu ini kan
mancung kak, tapi ke dalam, eh tapi gak papa kan pesek itu manis kak, makasih
yah udah di bilang manis kak” jawabku kepedean, aku pun segera pulang ke rumah
mengendarai sepeda motor bersama dengan kakakku Rina yang satu sekolah
denganku. Setelah sampai rumah akupun
langsung masuk dan salim sekaligus melontarkan senyuman kepada orangtuaku,
kemudian pergi ke kamar.
Tak lama
terdengar suara ketukan dari balik pintu kamarku,
“Ulfah, Rina kalian di dalam?” yang
ternyata setelah ku buka adalah ibuku yang memanggil aku dan kakak ku untuk
berkumpul bersama di ruang keluarga. Setelah
semua berkumpul, Ayahku mulai menjelaskan,
“Jadi tujuan Ayah mengumpulkan kalian
disini untuk menanyakan apakah kalian siap kita pindah ke rumah kakek yang
rumahnya dibilang kurang memadai jika rumah ini benar-benar di gugat?”. Masalah keluargaku adalah hanya karena
warisan, dulu nenekku mewariskan tanah dan rumah yang ku tinggali bersama kelurgaku
ini kepada ayahku sebagai rasa terimakasihnya
karena telah merawatnya sampai ia
meninggal, tapi keluarga dari pihak lain ternyata ada yang tidak suka dan
menggugat rumah dan tanah yang di wasiatkan kepada ayahku.
“Kami semua siap kok yah” jawabku dan
kakakku Rina. Setelah selesai berdiskusi
aku dan kakakku kembali ke kamar.
Aku
dan kakakku langsung memasang wajah cemberut masuk ke kamar, tetapi setelah
teringat potongan ayat surah Al-insyiroh yang ku pelajari tadi disekolah aku
langsung berusaha untuk tersenyum, tak lama kakakku berkomentar dan sedikit
marah dengan masalah keluarga ini tapi aku berusaha untuk menasihatinya agar
dia tidak mengeluh dengan masalah yang ada ini,
”Udahlah kak, nggak usah ngeluh kita
lagi di uji bukan disakiti, Allah gak akan nguji kita di luar batas kemampuan
kita kok, lagipula ngeluh itu nggak ada gunanya kan? yang ada malah buat capek”
.
“Hm.. iya juga sih dek, maksih yah
udah ngingetin kakak”.
Tak
terasa sudah malam, terdengar suara Ibuku
“makan malam sudah siap, ayo kita
makan”
Setelah sholat maghrib aku bersama
keluargaku makan bersama dan tiba-tiba Ibuku terpancing emosi karena ayahku
bilang bahwa tempat usaha ayahku di pagar oleh pamanku sendiri. Aku berusaha untuk meredakan amarahnya.
“Udah bu, sabar! Allah sayang sama
kita makanya Allah giniin kita, harusnya kita bersyukur bu, karena Allah lagi
menunjukkan kasih sayangnya kepada kita, Ibu ingat deh makna dari surah
Al-Insyirah ayat 5-6 Allah bilang di ayat ke 5 bahwa bersama Kesulitan ada kemudahan,
dan Allah menegaskan lagi di ayat ke 6 dengan arti yang sama itu berarti memang
benar kalo dibalik kesulitan ada kemudahan, iya kan bu?”
“Astaghfirullah, iya nak kamu benar,
tidak seharusnya Ibu mengeluh” jawab ibuku yang terus mengucap istighfar.
Wajah
Ayahku masih sama, tetap selalu tersenyum di sela masalah-masalah yang di milikinya itu, aku sangat iri dengan ayahku
yang selalu tersenyum di saat senang atau sedih, aku sangat bangga dengan
ayahku. Tidak hanya menutup usaha ayahku
saja, pamanku juga mengajak ayahku untuk ke pengadilan, hasil kebun ayahku yang
di tanamnya dengan susah payah juga diambil, tetapi ayahku tetap hanya diam,
Ayahku tetap tersenyum menghadapi semua cobaannya.
“Subhanallah”ucapku dalam hati, terkadang
ada tetangga yang bilang bahwa ayahku terlewat sabar, katanya ayahku seperti di
injak-injak derajatnya oleh pamanku.
Tapi ayahku selalu saja tersenyum saat di katakana seperti itu dan
selalu menjawabnya dengan kata,
“gak,papa sabar aja, harta bisa di cari kok,
gak, perlu di perebutkan”.
Ayahku sudah lama
tak merespon masalah itu, usaha ayahku pun benar-benar di tutup rapat sekarang,
hanya ada satu harapan utuk mencari nafkah yaitu warung kecil-kecilan di
samping rumahku yang untungnya tidak terlalu besar. Aku sedang berkumpul
bersama keluargaku. Ayahku pun membuka
pembicaraan,
“Jika hanya begini-begini saja usaha yang ada, Ayah yakin keluarga kita
tidak akan hidup karena pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, jadi
bagaimana jika Ayah utang di Bank untuk memperbarui usaha ayah dulu sebagai peternak ayam?”.
“Iya yah, sepertinya itu lebih baik”
jawab kakakku Yasir dan Ibuku. Di
samping usaha, ayahku juga selalu berdoa untuk di beri kekuatan dalam menjalani
cobaan bukan di ringankan dalam menjalani cobaan, terkadang ayah dan ibuku bangun
tengah malam untuk sholat tahajjud dan Ayahku biasanya menyelipkan sedikit
nasihat untuk Ibuku agar tetap tegar dan
bersabar.
Hari terus berganti, Kehidupan
keluargaku Alhamdulillah mulai membaik walau tak sebaik dulu. Hari itu sangat panas, terdengar suara
ketukan dari pintu depan rumah ku,
“Assalamu’alaikum” seperti tak asing lagi ku dengar suara itu, dan
ternyata hipotesisku benar, itu adalah pamanku yang selalu menggugat ayahku,
yang tega menancapkan Patok bertuliskan “TANAH DIJUAL” didepan rumahku, yang
membawa parang ingin mengancam ayahku, sekarang apalagi yang mau dia ambil dari
ayahku setelah dia mematikan kehidupanku dan keluargaku,
“Astaghfirullah, Ya Rab maafkan aku, sungguh khilaf hambamu ini” aku langsung cepat-cepat istghfar karena sungguh, tak sadar aku telah
mencari-cari kejelekan pamanku sendiri, seharusnya aku mengingat kebaikan apa saja
yang pernah di perbuat pamanku kepadaku bukan kejelekannya agar tidak
menimbulkan rasa benci terhadap paman ku. Bukankah ISLAM mengajarkan seperti itu, aku
pun segera membuka pintu dan menyimpulkan senyuman seikhlas dan semanis mungkin
kepada pamanku.
“Ada apa paman?” tanyaku ramah,
“Ada ayah kah nak” jawab pamanku dengan akrab,
“Iya ada, silahkan masuk paman,
biar ku pangggilkan dulu ayah di dalam”.
Ku suguhi paman ku dengan secangkir teh dan sedikit kue kering. Aku pun memanggil Ayahku di dalam sambil
merasakan cemas,
“Semoga tidak terjadi apa-apa, amiin”.
Setelah beberapa lama pamanku
duduk bersama Ayahku, aku pun keluar dan aku melihat senyuman manis dari bibir
Ayahku dan aku mendengar samar-samar kata maaf dari pamanku.
“Subhanallah” begitu senang nya
aku mendengar, ternyata semua ayat Allah itu benar. Seperti potongan ayat surah
al-Insyirah bahwa sesugguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Orang tuaku
tetap sabar menghadapi masalah itu serta berusaha untuk menyelesaikannya dan
akhirnya di beri kemudahan oleh ALLAH juga.
Pamanku benar-benar datang sendiri meminta maaf, sungguh keajaiban yang
datang dari ALLAH SWT, aku sungguh senang melihat keluargaku damai dan tak lupa
aku terus mengucap syukur kepada sang pencipta.
“Alhamdulillah”.
“Kukuruyukkk.. “ ayam berkokok
menyambut pagi yang indah, aku terbangun melaksanakan sholat subuh berjama’ah dengan
keluargaku, setelah sholat Ayah memberi kejutan kepada kami semua,
“Nanti jam 08:00 kalian siap-siap ya, Alhamdulillah kehidupan kita
sekarang jauh lebih baik dibanding kehidupan kemarin, itulah makna dari
bersabar dan bersyukur, Panen ayam kali ini sangat baik dan untungnya sangat
banyak, jadi Ayah ingin mengajak kalian jalan-jalan bersama keluarga besar kita”.
“yeee,, asik- asik” spontanku dan kakakku Rina serempak. Rencananya kami akan jalan-jalan ke pantai
sambil membakar ayam dan ikan sekaligus membaca doa selamat di sana. Sebagai wujud syukur dari perdamaian keluarga
besar ayahku.
“Subhanallah terasa sekali bahwa Allah itu adil, memberi kesulitan tapi
memberi kebahagiaan juga, sungguh aku cinta ISLAM dan sangat mencintai ALLAH
SWT”.
Udah dibaca???, gimana?? bagus gak?? kalian pengen gak, buat tegak beginian juga?
Ayolah di coba, gak ada salahnya kan mencoba itu.
