Sabtu, 08 November 2014

ALUR MEMBUAT CERPEN BESERTA NASKAH ASLINYA



            Nah kembali lagi bersama saya sobat, kali ini saya memosting alur cerpen lagi nih dengan judul yang tentunya berbeda dari postingan sebelumnya, judulnya bisa dilihat sendiri aja nanti di bawah.  Gimana? kalian udah ada yang tersentuh belum hatinya setelah membaca postingan cerpen kemarin.  Mudah kan cara membuatnya????.  Untuk memudahkan kalian dalam membuat cerpen apalagi bagi pemula yang sama sekali belum pernah membuat cerpen sebelumnya, sebaiknya membuat cerpen dengan berdasarkan fakta yang konkrit aja deh! biar kalian bisa mendalami dan memudahkan saat menulis cerpen.  Emosional yang tinggi juga dibutuhkan dalam membuat cerpen.  Jadi, ya gak, harus punya pengalaman doang tok' modal embuat cerpen yang sempurna tapi kita juga harus menjiwai dalam menulis cerpen, dan usahakan membuatnya pada saat mood kalian bagus hehe..
            MENYARANKAN aja kok. Nah sekarang kalian lihat deh new posting saya dibawah ini, mungkin dengan melihat alur atau pun cerpen yang saya posting saat ini akan menarik kalian untuk berinisiatif membuat cerpen.

Sungguh Kesulitan Berada dalam Kemudahan


Pengenalan masalah : Usai pelajaran mtk berlangsung, ku tarik tasku dari laci mejaku, segera aku dan teman-temanku berlarian pergi menuju lab. B.inggris.  Begitulah sekolahku lab, b.inggris bisa saja di jadikan tempat untuk belajar agama islam.  Ku lepas sepatuku dan masuk sembari engucapkan salam. setelah itu aku duduk bersama deretan teman-teman akhwatku.  Tak lama terdengar suara ketua kelas member aba-aba berdo,a sebelum pelajaran berlangsung.
Muncul masalah        : Pak mu,in pun guru agama ku memulainya dengan salam kemudian memberitahu materi  apa yang akan dibahas pada pertemuan kali ini.  Aku hanya mendengarkannya tanpa mencerna kata-katanya, sembari ku senderkan kepalaku pada dinding berwarna cream yang mewarnai seluruh ruangan berhiaskan Asmaul husna itu.  Tak lama Saat terdengar lantunan ayat yang dibacanya hatiku langsung tersentuh dan bagaimana tidak yang di bacakannya dengan suara merdu itu adalah surah al-insyirah, yang di salah satu ayat itu ada ayat yang mempunyai arti sesungguhnya kesulitan ada dalam kemudahan.akupun langsung teringat dengan masalah keluargaku.  Segera Aku mendengarkan penjelasan lebih mendalam mengenai makna dari ayat tersebut.
Masalah memuncak  : Bell tanda smua mata pelajaran telah berakhir, aku pun segera pulang ke rumah mengendarai sepeda motor bersama dengan kakakku Rina yang satu sekolah denganku.  Setelah sampai rumah akupun langsung masuk kamar.  Tak lama terdengar suara ketukan pintu kamarku dan ternyata setelah ku buka adalah ibuku yang memanggilku dan kakak ku untuk berkumpul bersama. Ayahku menjelaskan tentang bagaimana jika benar-benar rumah yang ku tinggali bersama ortu dan kakak-kakaku ini di sita, apakah siap jika tinggal di rumah kakekku yang rumahnya dapat dibilang kurang memadai.  Masalah keluargaku adalah hanya karena warisan, dulu nenekku mewasiatkan tanah dan rumah yang ku tinggali bersama kelurgaku ini kepada ayahku tapi keluarga dari pihak lain ternyata ada yang tidak suka dan menggugat rumah dan tanah yang di wasiatkan kepada ayahku. Kami semua siap jika rumah itu benar-benar disita untuk itnggl d tmpat kakek.  Setelah selesai aku dan kakakku kembali ke kamar.
Klimaks                      : Aku dan Kakakku langsung memasang wajah cemberut ke kamar, tetapi setelah teringat potongan ayat al-insyiroh aku langsung berusaha untuk tersenyum, tak lama kakakku berkomentar dan sedikit marah dengan masalah keluarga ini tapi aku berusaha untuk menasihatinya agar dia tidak mengeluh dengan masalah yang ada ini, karena allah gak akan nguji kita di luar btas kemampuan kita.  Aku bersama keluargaku makan bersama dan ibuku terpancing emosi karena ayahku bilang bahwa tempat usaha ayahku di pagar oleh pamanku sendiri.  Ibuku marah-marah dan aku berusaha untuk terus meredakan amarahnya.  Tapi anehnya wajah Ayahku selalu tersenyum di sela masalah-masalah yang di  milikinya itu, aku sangat iri dengan ayahku yang selalu tersenyum di saat senang atau sedih.  Aku sangat bangga dengan ayahku.  Tidak hanya menutup usaha ayahku saja pamanku juga mengajak ayahku untuk ke pengadilan, hasil kebun ayahku juga diambil. Tetapi ayahku tetap hanya diam, terkadang ada tetangga yang bilang bahwa ayahku terlewat sabar, katanya ayahku seperti di injak-injak derajatnya oleh pamanku.  Tapi ayahku selalu saja tersenyum.
Masalah mereda        : Ayahku sudah lama tak merespon masalah itu. Usaha ayahku pun benar-benar di tutup rapat sekarang hanya ada satu harapan utuk mencari nafkah yaitu warung kecil-kecilan Ibuku.  Akhirnya ayahku pun memutuskan untuk Utang di Bank untuk memperbarui usaha ayahku dulu yaitu peternak  ayam.  Di samping usaha, ayahku selalu berdoa. Aku sangat bangga memiliki Ayah sepertinya.  Siang hari itu sangat panas, terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah ku yang tak asing lagi ku dengar suara itu, dan ternyata hipotesisku benar itu adalah pamanku .  Terdengar salam yang di ulangi beberapa kali, aku pun segera membuka pintu dan melontarkan senyuman seikhlas mungkin kepada pamanku.  Ku suguhi paman ku dengan secangkir teh dan sedikit kue kering.  Aku pun memanggil Ayahku.  Setelah beberapa lama ayahku duduk bersama pamanku, aku pun keluar  dan Subhanallah begitu senang nya aku mendengar mereka sudah bermaafan, ternyata semua ayat Allah itu benar seperti potongan ayat surah al-insyiroh itu sesugguhnya kesulitan ada dalam kemudahan.
Selesai                         : Kukuruyukkk.. ayam brkokok menyambut pagi yang indah dan aku terbangun melaksanakan sholat subuh berjama’ah dengn keluargaku, setelah itu ayah ku memberi kejutan kepada kami semua  ayah ku akan mengajak kami sekeluarga jalan-jalan bersama dengan paman’’ ku seluruh keluarga besarku.  Rencanya kami akan jalan-jalanke pantai sambil membakar ayam dan ikan sekaligus membaca do’a selamat di sana sebagai wujud syukur dari perdamaian keluarga besar ayahku.





Nah ini cerpen aslinya.  Silahkan duduk manis dan dibaca ya, 

Sungguh Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
          Usai pelajaran matematika berlangsung, kutarik tas dari laci mejaku, segera aku dan teman-temanku berlari menuju Lab B.inggris.  Begitulah sekolahku Lab B.Inggris bisa saja dijadikan tempat untuk belajar Agama Islam karena didalam ruangan itu sangat sejuk dan banyak hiasan berbau islam.
“Eh,  Lia, tunggu aku dong”
“Iya cepetan, udah ada gurunya didalam Lab” jawab Lia.  Ku lepas sepatuku dan segera aku masuk sembari mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumusalam ayo cepet masuk, pelajaran sudah mau dimulai” jawab guruku.  Akupun segera duduk di sebelah temanku Lia. Tak lama terdengar suara ketua kelas memberi aba-aba berdoa sebelum pelajaran berlangsung.
“Selesai”. Ucap ketua kelasku mengakhiri do’a.
          Pak Mu’in,  guru agamaku membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan di  jawab dengan semangat oleh teman-teman sekelasku kecuali aku yang pada saat itu kurang enak badan, setelah itu bapak memberi tahu terlebih dahulu materi apa yang akan di bahas pada pertemuan kali ini.  Materi yang di bahas adalah tentang makna dari surah Al-Insyirah.  Awalnya aku hanya mendengar apa yang di jelaskan olehnya tanpa mencerna kata-katanya, ku senderkan kepalaku di dinding bercat putih yang mewarnai seluruh tembok berhiaskan As-maul Husna di Lab tersebut, sambil aku bershalawat Fatih untuk menenangkan pikiranku.
          Tak lama terdengar lantunan ayat yang dibaca guruku,
“Subhanallah” responku spontan.  Ingin rasanya air mataku menetes, hatiku langsung tersentuh mendengar tilawah surah Al-insyirah yang dibacakan oleh pak Mu’in  yang di salah satu ayatnya memiliki makna “sesungguhnya didalam kesulitan ada kemudahan”.  Akupun langsung teringat dengan masalah keluargaku.  Segera Aku mendengarkan penjelasan lebih mendalam mengenai makna dari ayat tersebut.
Tak terasa, pelajaran berakhir. Usai pelajaran berlangsung ku salami guruku dan berterimakasih kepadanya karena telah menyadarkanku bahwa setiap masalah pastilah ada jalan keluarnya, kemudian aku bergegas untuk pulang dengan ingatan yang terus memikirkan makna dari potongan ayat surah Al-Insyirah itu, yang akan membantuku terus bersabar dan tersenyum menghadapi cobaan.
          Bell tanda semua mata pelajaran telah berakhir berbunyi, segera aku ke luar gerbang menemui kakakku yang ternyata sudah menungguku daritadi.
“Kakak aja yah yang bawa motornya adek lagi gak, enak badan nih” suruhku
“Huftt, kamu ini dek, yaudah deh sini kuncinya biar kakak yang bawa, cepet sembuh yah adek pesek hehe”
“Ih kakak jahat, adekmu ini kan mancung kak, tapi ke dalam, eh tapi gak papa kan pesek itu manis kak, makasih yah udah di bilang manis kak” jawabku kepedean, aku pun segera pulang ke rumah mengendarai sepeda motor bersama dengan kakakku Rina yang satu sekolah denganku.  Setelah sampai rumah akupun langsung masuk dan salim sekaligus melontarkan senyuman kepada orangtuaku, kemudian pergi ke kamar.
Tak lama terdengar suara ketukan dari balik pintu kamarku,
“Ulfah, Rina kalian di dalam?” yang ternyata setelah ku buka adalah ibuku yang memanggil aku dan kakak ku untuk berkumpul bersama di ruang keluarga.  Setelah semua berkumpul, Ayahku mulai menjelaskan,
“Jadi tujuan Ayah mengumpulkan kalian disini untuk menanyakan apakah kalian siap kita pindah ke rumah kakek yang rumahnya dibilang kurang memadai jika rumah ini benar-benar di gugat?”.   Masalah keluargaku adalah hanya karena warisan, dulu nenekku mewariskan tanah dan rumah yang ku tinggali bersama kelurgaku ini kepada ayahku sebagai rasa terimakasihnya  karena  telah merawatnya sampai ia meninggal, tapi keluarga dari pihak lain ternyata ada yang tidak suka dan menggugat rumah dan tanah yang di wasiatkan kepada ayahku.
“Kami semua siap kok yah” jawabku dan kakakku Rina.  Setelah selesai berdiskusi aku dan kakakku kembali ke kamar.
          Aku dan kakakku langsung memasang wajah cemberut masuk ke kamar, tetapi setelah teringat potongan ayat surah Al-insyiroh yang ku pelajari tadi disekolah aku langsung berusaha untuk tersenyum, tak lama kakakku berkomentar dan sedikit marah dengan masalah keluarga ini tapi aku berusaha untuk menasihatinya agar dia tidak mengeluh dengan masalah yang ada ini,
”Udahlah kak, nggak usah ngeluh kita lagi di uji bukan disakiti, Allah gak akan nguji kita di luar batas kemampuan kita kok, lagipula ngeluh itu nggak ada gunanya kan? yang ada malah buat capek” .
“Hm.. iya juga sih dek, maksih yah udah ngingetin kakak”.
Tak terasa sudah malam, terdengar suara Ibuku
“makan malam sudah siap, ayo kita makan”
Setelah sholat maghrib aku bersama keluargaku makan bersama dan tiba-tiba Ibuku terpancing emosi karena ayahku bilang bahwa tempat usaha ayahku di pagar oleh pamanku sendiri.  Aku berusaha untuk meredakan amarahnya.
“Udah bu, sabar! Allah sayang sama kita makanya Allah giniin kita, harusnya kita bersyukur bu, karena Allah lagi menunjukkan kasih sayangnya kepada kita, Ibu ingat deh makna dari surah Al-Insyirah ayat 5-6 Allah bilang di ayat ke 5 bahwa bersama Kesulitan ada kemudahan, dan Allah menegaskan lagi di ayat ke 6 dengan arti yang sama itu berarti memang benar kalo dibalik kesulitan ada kemudahan, iya kan bu?”
“Astaghfirullah, iya nak kamu benar, tidak seharusnya Ibu mengeluh” jawab ibuku yang terus mengucap istighfar.
Wajah Ayahku masih sama, tetap selalu tersenyum di sela masalah-masalah yang di  milikinya itu, aku sangat iri dengan ayahku yang selalu tersenyum di saat senang atau sedih, aku sangat bangga dengan ayahku.  Tidak hanya menutup usaha ayahku saja, pamanku juga mengajak ayahku untuk ke pengadilan, hasil kebun ayahku yang di tanamnya dengan susah payah juga diambil, tetapi ayahku tetap hanya diam, Ayahku tetap tersenyum menghadapi semua cobaannya. 
“Subhanallah”ucapku dalam hati, terkadang ada tetangga yang bilang bahwa ayahku terlewat sabar, katanya ayahku seperti di injak-injak derajatnya oleh pamanku.  Tapi ayahku selalu saja tersenyum saat di katakana seperti itu dan selalu menjawabnya dengan kata,
 “gak,papa sabar aja, harta bisa di cari kok, gak, perlu di perebutkan”.
          Ayahku sudah lama tak merespon masalah itu, usaha ayahku pun benar-benar di tutup rapat sekarang, hanya ada satu harapan utuk mencari nafkah yaitu warung kecil-kecilan di samping rumahku yang untungnya tidak terlalu besar. Aku sedang berkumpul bersama keluargaku.  Ayahku pun membuka pembicaraan,
“Jika hanya begini-begini saja usaha yang ada, Ayah yakin keluarga kita tidak akan hidup karena pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, jadi bagaimana jika Ayah utang di Bank untuk memperbarui usaha ayah dulu sebagai peternak  ayam?”.
“Iya yah, sepertinya itu lebih baik”  jawab kakakku Yasir dan Ibuku.  Di samping usaha, ayahku juga selalu berdoa untuk di beri kekuatan dalam menjalani cobaan bukan di ringankan dalam menjalani cobaan, terkadang ayah dan ibuku bangun tengah malam untuk sholat tahajjud dan Ayahku biasanya menyelipkan sedikit nasihat untuk  Ibuku agar tetap tegar dan bersabar. 
Hari terus berganti, Kehidupan keluargaku Alhamdulillah mulai membaik walau tak sebaik dulu.  Hari itu sangat panas, terdengar suara ketukan dari pintu depan rumah ku,
“Assalamu’alaikum” seperti tak asing lagi ku dengar suara itu, dan ternyata hipotesisku benar, itu adalah pamanku yang selalu menggugat ayahku, yang tega menancapkan Patok bertuliskan “TANAH DIJUAL” didepan rumahku, yang membawa parang ingin mengancam ayahku, sekarang apalagi yang mau dia ambil dari ayahku setelah dia mematikan kehidupanku dan keluargaku,
“Astaghfirullah, Ya Rab maafkan aku, sungguh khilaf hambamu ini”  aku langsung cepat-cepat istghfar  karena sungguh, tak sadar aku telah mencari-cari kejelekan pamanku sendiri, seharusnya aku mengingat kebaikan apa saja yang pernah di perbuat pamanku kepadaku bukan kejelekannya agar tidak menimbulkan rasa benci terhadap paman ku.  Bukankah ISLAM mengajarkan seperti itu, aku pun segera membuka pintu dan menyimpulkan senyuman seikhlas dan semanis mungkin kepada pamanku.  
“Ada apa paman?” tanyaku ramah,
“Ada ayah kah nak” jawab pamanku dengan akrab,
 “Iya ada, silahkan masuk paman, biar ku pangggilkan dulu ayah di dalam”.  Ku suguhi paman ku dengan secangkir teh dan sedikit kue kering.  Aku pun memanggil Ayahku di dalam sambil merasakan cemas,
“Semoga tidak terjadi apa-apa, amiin”.
Setelah beberapa lama pamanku duduk bersama Ayahku, aku pun keluar dan aku melihat senyuman manis dari bibir Ayahku dan aku mendengar samar-samar kata maaf dari pamanku.
“Subhanallah” begitu senang nya aku mendengar, ternyata semua ayat Allah itu benar. Seperti potongan ayat surah al-Insyirah bahwa sesugguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Orang tuaku tetap sabar menghadapi masalah itu serta berusaha untuk menyelesaikannya dan akhirnya di beri kemudahan oleh ALLAH juga.  Pamanku benar-benar datang sendiri meminta maaf, sungguh keajaiban yang datang dari ALLAH SWT, aku sungguh senang melihat keluargaku damai dan tak lupa aku terus mengucap syukur kepada sang pencipta.
“Alhamdulillah”.
“Kukuruyukkk.. “ ayam berkokok menyambut pagi yang indah, aku terbangun melaksanakan sholat subuh berjama’ah dengan keluargaku, setelah sholat Ayah memberi kejutan kepada kami semua,
“Nanti jam 08:00 kalian siap-siap ya, Alhamdulillah kehidupan kita sekarang jauh lebih baik dibanding kehidupan kemarin, itulah makna dari bersabar dan bersyukur, Panen ayam kali ini sangat baik dan untungnya sangat banyak, jadi Ayah ingin mengajak kalian jalan-jalan bersama keluarga besar kita”. 
“yeee,, asik- asik” spontanku dan kakakku Rina serempak.  Rencananya kami akan jalan-jalan ke pantai sambil membakar ayam dan ikan sekaligus membaca doa selamat di sana.  Sebagai wujud syukur dari perdamaian keluarga besar ayahku.
“Subhanallah terasa sekali bahwa Allah itu adil, memberi kesulitan tapi memberi kebahagiaan juga, sungguh aku cinta ISLAM dan sangat mencintai ALLAH SWT”.




Udah dibaca???, gimana?? bagus gak?? kalian pengen gak, buat tegak beginian juga?
Ayolah di coba, gak ada salahnya kan mencoba itu.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Ulfah's Blog Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template