Senin, 13 April 2015

Cerpen Impianku Masuk SMA Unggulan

Imppianku Masuk SMA Unggulan

          Kukuruyukkkk…, begitulah suara pagi terdengar di gendang telingaku, yang menarikku agar segera bergegas mandi, shalat subuh, belajar dan segera berangkat ke sekolah.  Pukul 07:00 WITA pagi aku sudah berada di sekolah, duduk diruang kelas III A SMPN 2 Samboja, untuk hari pertama masuk sekolah setelah hari libur semester 5.  Ku keluarkan buku IPA dari tas selempang cantikku yang berwarna coklat manis, lalu membolak-balikan halaman beberapa kali tanda tak mengerti dengan apa isi buku itu karena selama libur sangat jarang membuka buku dan mengulang pelajaran seperti apa yang pada kenyataannya benar.  Hari libur adalah hari yang sangat istimewa bagi pelajar, sehingga tidak jarang pelajar menghabiskan waktu liburnya untuk bersantai-santai dan melupakan semua beban pelajaran.  Jadi wajar sajalah jika hari pertama masuk sekolah setelah hari libur banyak pelajaran yang terbengkalai.
          Jam sudah menunjukkan pukul 07.10 WITA, terlihat teman-temanku datang berangsur-angsur yang masuk ke ruang kelasku sembari menanyakan kabar,
“Apa kabar fah? Gimana hari liburmu?” Tanya sahabatku Tara yang langsung mengambil posisi duduk di sampingku.
“Alhamdulillah baik, liburanku biasa saja, bagiku hari libur atau bukan hari libur, itu sama saja.  Aku tetap di rumah membantu orangtuaku, menurutku itu adalah sesuatu yang mengasyikan, menghabiskan waktu bersama Ibu di dapur dan membantu membersihkan rumah” jawabku.
“Ah kamu ini masa gak ada jalan-jalan toh” Tanya tara lagi tak percaya.
“Nah loh? Tenanan tar, aku loh di rumah terus, jalan cuman nyapein badan jadi malas.  Eh tapi saya jalan-jalan kok, nemenin Ibu ke pasar” gurauku.
“Uhhh dasar, capek deh ngomong sama kamu, eh btw kamu udah makan pagi belum? kita ke kantin yuk”
“hehe puasa aku bah!”
“eh iya maaf lupa, inikan hari senin sudah menjadi rutinitasmu puasa.  Yaudah aku ke kantin dulu”.  Tara bergegas pergi meninggalkan ruang kelas.
          Tak lama Bell tanda waktu pelajaran akan di mulai berbunyi, aku pun segara kembali memasukkan buku-buku yang ku keluarkan tadi dan pergi ke Lab. IPA.  Aku pun masuk dan tak lupa mengucapkan salam, kemudian guruku yang ternyata sudah berada lebih awal dari pada aku menjawab dengan ramah dan menyilahkanku masuk.
          Setelah semua anggota kelasku terkumpul Pak Sukro Hariadi guru IPAku membuka pembicaraan.  Hari ini ia tidak memberi materi maupun praktek, karena hari ini hari pertama masuk sekolah ia ingin merefresh otak kami sekaligus memberi motivasi kepada kami tentang pandangan kedepan untuk melanjutkan SMA.  Pak Sukro adalah guru yang sangat baik, ia adalah orang yang selalu memotivasi anak didiknya agar terus maju dan pantang menyerah, dia selalu mengajari anak didiknya dengan penuh kesabaran, dan ia adalah orang yang tidak pernah menyia-nyiakan waktu, sangat peduli dengan kemajuan bangsa, aku sangat menyukainya.
          Pak Sukro sudah dari tadi memberi masukkan kepada kami, aku dan teman-temanku mendengarkannya dengan tenang dan masih belum ada pandangan untuk lanjutan kedepannya ingin masuk SMA kemana, sampai akhirnya keluar kata UNGGULAN dari ucapan guruku. Hahh? Aku langsung melongo, dan lebih memerhatikan guruku lagi yang menjelaskan tentang SMAN 3 Unggulan Tengarong yang ternyata anaknya sekolah disana.  Kedengarannya sangat menarik, aku tiba-tiba langsung berniat untuk melanjutkan sekolah kesana, aku ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah yang berbeda dengan kakakku Rina.  Umurku dan dia hanya berbeda 2 tahun tapi hanya beda 1 tingkatan kelas.  Dari SD aku selalu di sekolahkan di tempat yang sama sampai SMP sehingga aku sangat berkegantungan dengannya.  Aku ingin mandiri sekarang dan tak mau berkegantungan lagi dengan kakakku.
          Teeet tett tet…! Bell itu membuat Pak Sukro mengakhiri pelajarannya yang diisi dengan banyak motivasi tadi, aku segera keluar ruang Lab. Dan memikirkan bagaiman caranya agar aku dapat masuk sekolah ke SMA Unggulan itu.
“Apakah aku bisa sekolah disana? Apakah orangtuaku mampu membiayaiku sekolah disana? Apakah aku pantas sekolah disana?” bermacam pertanyaan terombang-ambing di pikiranku.
          Aku duduk di kelas dan tiba-tiba datang Nunu kelas III B menghampiriku,
“Ulfah, kamu lanjut kemana nih setelah SMP?”
“gaktau nih nu, aku bingung. Aku pengen banget lanjut ke sekolah yang dibilang pak sukro tadi, Sekolah Unggulan, lebih tepatnya SMAN 3 Unggulan Tenggarong”
“Owhhh… ya ya ya, ehh kebetulan aku juga pengen lanjut kesana, gimana kalo kita sama-sama aja, katanya yuli dan silfitri teman sekelasku juga pengen lanjut kesana”
“beneran nu, ayo deh kalo gitu kita sama-sama daftar sekaligus sama-sama pergi kesananya”
“okee sip ntar deh aku kasih infonya lagi”.
          Pulang sekolah aku menunggu angkot di depan gerbang sekolah, aku bertemu Nunu dan dia memberikan selembar formulir, betapa senangnya aku, aku pun tersenyum gembira dan langsung berterimakasih kepada nunu, tapi mendadak senyumku pudar karena nunu masih bingung siapa yang akan mengantar berkasnya ke Tenggarong nanti.  Kami pun sepakat menanyakan kepada orangtua masing-masing dirumah ada yang bisa atau tidak mengantarkannya. Akupun segera mendapati angkot dan melambaikan tangan tanda menyetop.
          Setelah tiba dirumah aku pun lansung bertanya pada orang tua ku tentang niatku lanjut ke SMA Unggulan di Tenggarong, dan orangtuaku pun menyetujuinya walaupun dari raut mukanya masih terlihat ragu.  Setelah mereka menyetujuinya aku pun bertanya apakah mereka bisa mengantarkan berkas ku dan teman-temanku ke SMAN 3 Unggulan Tenggarong. Dan ternyata MANTAP, mereka tidak bisa mengantarkanya, aku pun segera mengirim pesan ke teman-temanku yang ingin melanjutkan ke sekolah yang sama dengan ku bahwa orang tuaku tidak bisa mengantarkan berkasnya, dan sebaliknya ternyata mereka membalas pesanku dan dengan jawaban yang sama bahwa orangtua mereka juga tidak bisa mengantarkan berkasnya.  Akhirnya kami kembali bersepakat untuk merundingkannya besok di sekolah.
          Hari berganti, akupun sudah berada di sekolah tepat jam seperti kemarin pertama masuk sekolah.  Tak lama nunu, yuli dan silfitri datang, kami pun segera merundingkan masalah kami.  10 menit kami berunding, tiba-tiba Pak Sukro datang menghampiri kami dan beliau menawarkan bahwa kepsek  ingin mengantarkan berkas ke Tenggarong.  Kami semua tercengang dan hampir tidak percaya.  Ternyata semua yang didasari dengan bersungguh-sungguh itu pasti ada saja jalannya.  Kami pun langsung menerima tawaran Pak Sukro dan berterimakasih kepada beliau.
          Tidak Terasa sudah 2 minggu setelah berkas itu dikumpul, seleksi berkas sudah keluar dan kami semua lulus, kemudian kami melihat apa-apa yang harus disiapkan nanti pada masa PSU.  Di kertas itu di tuliskan biaya PSU yang bernilai Rp.400.000,-.  Aku kaget dan bingung harus bagaimana lagi, akhirnya akupun memutuskan untuk menabung sendiri untuk mengumpulkan uang sebanyak itu, dan aku sangat sangat tidak ingin merepotkan kedua orangtuaku.  Uang saku yang diberikan kepadaku oleh orangtuaku tak pernah ku belanjakan selama 1 bulan dan Alhamdulillah uang yang diharapkan sudah terkumpul.  Masih ada waktu seminggu sebelum masa PSU, aku pun semakin bersemangat dan berjuang untuk masuk ke SMAN 3 Unggulan Tenggarong. 
          Selama aku tau SMAN 3 Unggulan Tenggarong aku terus berusaha mencari ilmu dengan bersungguh-sungguh untuk modalku masuk SMAN 3 Unggulan Tenggarong, aku bahkan mencari tempat dimana ada les b. arab karena aku mendengar bahwa SMAN 3 Unggulan Tenggarong juga mempelajari b. arab dan aku sama sekali tidak mengetahui b. arab karena disekolahku tidak mempelajari b, arab.  Pagi jam 7 aku berangkat sekolah setelah itu jam tambahan sekolah sampai Ba’da ashar, kemudian aku melanjutkan lagi sekolah di Madrasah Dinniyah kumpulan Madura untuk belajar agama disana terutama b. arabnya yang ku pelajari dengan sungguh-sungguh sekali.
          Matahari berada tepat di atas menunjukkan Tengahnya hari, tepat 3 hari sebelum PSU, aku, nunu, yuli, dan silfitri berdiskusi lagi mengenai transportasi yang akan di gunakan ke SMAN 3 Unggulan Tenggarong nanti.
“gimana kalo kita nyarter aja, tadi aku ketemu sama ibu TU bu prapti, nah anak dan teman anaknya ternyata juga mau masuk sekolah yang sama seperti kita, terus ibu nawarin mau gak, nyarter bareng jadi bayar ongkos transportasinya gak terlalu besar, ongkosnya sekitar 80 Rb kalo kita ikut nyarter, gimana? Kalian setuju gak?” Tanya temanku nunu.
“Iya kami setuju, gak’ ada pilihan lain lagikan selain itu?” jawab yuli dan silfitri.
“tapii??  Hm aku gak tega kalo harus minta uang sama orangtuaku, gimana dong? Hm tapi yaudah deh tega gak, tega harus minta karena aku gak mungkin ngumpulin uang saku sebanyak 80 rb dalam waktu 3 hari” jawabku.
“Okee jadi kita semua sepakat ya,nanti saya bilang ke Ibu praptinya deh”jawab nunu.
          Hari yang di tunggu-tunggupun tiba seminggu sebelum UN berlangsung kami mengikuti test di SMAN 3 Unggulan Tenggarong.  Kami pun sampai di sekolah yang di tuju,
“wah bagus sekali sekolah ini? Semoga ini benar-brenar bisa menjadi sekolahku amiin” responku melihat sekolah nan indah dan megah.  Aku dan teman-temanku segera turun dan ke resepsionis untuk mendaftar.  Aku mendapat kamar 23 sekamar dengan Yuli, Rizki anaknya Ibu prapti dan teman anaknya yaitu Annisa.  Sedangkan Nunu mendapat kamar 16 bersama dengan Silfitri, dan teman test dari marangkayu yaitu Novita dan Emil.  Kami semua istirahat dan segera menyimpuni barang-barang kami, tak terasa sudah malam, kami pun mengisi waktu malam dengan belajar dan pagi untuk menjalani test, begitu pula seterusnya selama seminggu test. 
          Test Kesmaptaan menurutku adalah test yang paling berat, aku harus berlari mengelilingi sekolah SMAN 3 Unggulan Tenggarong sebanyak-banyaknya.
“Ayo dek, lari dek. Ingat orangtua dirumah dek, kamu pengen orangtua kamu seneng kan? Ayo dek! Terus lari demi orang tua kamu”.  Suara teriakan anak OSIS SMAN 3 Unggulan Tenggarong membuatku yang tadinya tak bisa menjaga keseimbangan lagi terus berlari sambil memjamkan mata karena sudah merasa melayang.  Aku terus melangkahkan lariku sekuat tenagaku dan semampuku dan akhirnya peluit di bunyikan tanda berlari harus di berhentikan, Alhamdulillah aku hampir mengelilingi sekolah sebanyak 5 putaran.
          Setelah istirahat sebentar, test di lanjutkan lagi dengan pull up, push up, sit up, dan shuttle run atau lari angka 8.  Alhamdulillah semua ku jalani dengan lancar dan dengan jumlah score yang dapat di bilang cukup banyak, untuk push up aku adalah peserta perempuan yang push up terbanyak, sebanyak 50 kali dalam waktu semenit, setelah itu aku terasa tak bisa lagi berjalan karena semua energy ku sudah habis.  Akupun memutuskan untuk istirahat sebentar dan setelah energy mulai memulih setelah meminum air putih aku pun kembali ke asrama.  Aku langsung mandi dan segera tidur di asrama dengan waktu yang lumayan lama.  Ba’da Ashar aku segera membereskan semua barang-barangku persiapan pulang untuk besok.
          Pagi menjelang siang terlihat angkot kol handil berwarna putih yang di janjikan sudah menjemputku dan teman-temanku.  Sebenarnya aku sedikit sulit beradaptasi dengan kol handil karena baunya yang memabukkanku, tapi demi SMAN 3 aku harus bisa, karena yang bisa di sarter hanya tinggal itu dan mengingat biayanya juga yang tidak terlalu mahal seperti mobil yang kemarin, aku pun menyetujuinya.  Tidak perlu malu menaiki kendaraan itu, toh dengan apapun pulangnya sampai juga tetap ke tempat tujuan yang sama.  Aku di bantu dengan pak supir dan anak OSIS mengangkat barang-barangku ke dalam bagasi mobil.  Setelah itu aku dan teman-temanku kembali ke resepsionis untuk  bertanda tangan bukti tanda sudah pulang dan berterimakasih kepada OSIS.
          Mobil yang kami tumpangi mogok di perjalanan berkali-kali, sehingga perjalanan pulang kami sedikit terganggu, tapi Alhamdulillah kami semua sampai  di rumah dengan selamat.  Aku segera beristirahat setelah sampai dirumah, kemudian ba’da Ashar aku langsung membereskan rumah yang terlihat sangat sangat berantakan.
          Setelah 1 minggu aku menginjakkan kakiku di SMAN 3 Unggulan  Tenggarong, akhirnya hari ini aku menginjakkan kakiku lagi di SMPN 2 Samboja dan siap mengikuti UN.  UN berlangsung selama 4 hari. 2 minggu setelah UN, Hasil kelulusan Test SMAN 3 Unggulan Tenggarong pun keluar. Dan begitu senangnya aku ketika melihat  namaku “SITI NUR ULFAH” dari SMPN 2 Samboja tercantum di tabel kelulusan itu.  Tapi aku sangat sedih karena teman-temanku yang lain tidak lulus, akupun menguatkan mereka agar tetap semangat dan tidak putus asa karena masih banyak tentunya sekolah lain yang mau menerima mereka.
          Teman-temanku pun memberikan ucapan selamat kepadaku, dan guru-guruku pun juga memberikan ucapan selamat kepadaku. Aku sangat senang mereka semua bangga denganku.  Aku senang sekali karena apa yang sudah aku perjuangkan selama ini gak, sia-sia.  Aku hijrah mencari ilmu kadang sampai lupa dengan makan gak, sia-sia, waktuku yang seharusnya untuk istirahat tapi kugunakan untuk belajar sekarang tergantikan oleh kebahagiaan sekarang. Tak sia-sia doaku selama ini karena telah terjawab semuanya  oleh ALLAH SWT.  Akhirnya aku masuk ke sekolah Unggulan, impianku sejak SD.

“Ternyata bersungguh-sungguh itu tak jarang semuanya akan SUKSES, man jadda wa jadda”.  

0 komentar:

Posting Komentar

 

Ulfah's Blog Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template