Sabtu, 11 April 2015

Cerpen_MALAIKAT TANPA SAYAP

MALAIKAT TANPA SAYAP


“Allahuakbar Allahuakbar”, Terdengar suara adzan yang indah dan merdu dari samping rumah Annisa, ya ! panggilan Allah sudah datang, yang menarik Annisa untuk segera bangkit bergegas melaksanakan kewajibannya.  Setelah sholat Subuh ia pun belajar sekitar 15 menit dan setelah itu ia segera mandi.  Jam sudah menunjukkan pukul 06:00 pagi, Annisa yang ternyata dari tadi berada di dapur bersama ibunya telah selesai memasak.
Mereka pun segera menyiapkan makan, Piring dan gelas di tata rapi di lengser yang terbuat dari seng dan aluminium.  Annisa segera menumpahkan air putih ke masing-masing gelas yang berada di atas lengser, kemudian mengambil nasi dan lauk di tempat yang terpisah.  Begitulah keseharian Annisa, setiap hari ia membantu ibunya, pagi ia membantu ibunya masak didapur, sepulang sekolah dia menyapu rumah beserta halamannya dan malam adalah waktunya untuk istirahat.  Terkadang waktu malam di pakainya juga untuk bekerja membantu ibunya untuk mencuci pakaian karena dia tidak tega melihat ibunya bekerja sendiri.
“Annisa…?” panggil ibunya dengan nada sangat lembut
“Iya bu, ada apa”
“Annisa, lekas panggil ayah, kakakmu Melati dan Karim untuk makan pagi bersama ya” perintah ibunya.
“Oke ibu ku sayang”.
               Beberapa menit kemudian, mereka semua sudah berkumpul di dapur untuk makan bersama, cukup  sederhana cara mereka makan.  Mereka duduk membentuk lingkaran di lantai dengan alas dari selembar karpet yang terbuat dari rotan, terlihat sekali mereka masih sangat mebudayakan adat tradisional mereka.  Banyak tetangga mereka yang sangat salut dengan mereka karena di tengah era modern ini mereka masih membudayakan adat mereka dan tidak terpengaruh oleh budaya modern.  Mereka memang termasuk keluarga yang sangat mencintai Indonesia termasuk juga budayanya.
               Ayahnya yang tertua mendahului mengambil nasi, kemudian yang tertua di bawah ayahnya lagi, dan begitu seterusnya sesuai dengan adat mereka.  Mereka semua makan dengan tenang kecuali Annisa yang dari tadi tampak badmood dan sedang melamun, ternyata Annisa sedang memikirkan prestasinya “apa yang ku punya? Prestasi apa? Apa yang bisa buat orang tua aku bangga sama aku, aku sangat malu semua kakakku 22nya pintar-pintar dan cerdas, sering mendapatkan prestasi gemilang, sedangkan aku?? Menyandang 10 besar di kelas saja tidak pernah, aku harus bisa, aku harus bisa lebih dari mereka, aku tidak ingin membuat malu mereka !” lamunanya di dalam hatinya yang sedang menangis. 
“Adek…?? Kamu mikirin apa? Kamu gakpapa kan?, o yaa hari ini kakak ikut Olimpiade MIPA loh, doa in yah dek, oh ya doa in juga ya bu, yah, kak karim”  Tanya kakaknya sekaligus meminta doa ayah, ibu dan kakaknya.
“baik baik aja kok kak, tenang aja kak kami semua selalu doain kakak kok”.  Jawab Annisa dengan datar karena merasa iri melihat kakaknnya di puji-puji daritadi, ia  ingin sekali seperti kakaknya.
               Tak terasa sudah setengah jam mereka makan dan bercanda di dapur, Annisa pun segera menyebrang berangkat ke sekolah karena memang letak sekolahnya di depan rumah dan kakak-kakaknya segera berangkat juga  di antar oleh ayahnya ke sekolah.
“Bu, yah berangkat dulu yah Assalamu’alaikum” pamitku dan kakakku sembari mencium kedua tangan orangtuaku.
“wa,alaikum salam”
               Annisa dalam sekejap mata sudah sampai disekolah dan ia segara meletakkan tasnya di laci meja belajarnya, ia pun duduk dan tiba-tiba seorang guru tidak sengaja lewat depan kelas annisa dan melihatnya sedang melamun, guru BK  yang ternyata guru tingkat kelasnyapun, kelas VII menghampiri annisa. Annisapun kaget karena guru BK itu menepuk pundaknya.  Ia baru menyadari bahwa ia tadi sedang melamun, Pak BK pun segera bertanya mengapa Annisa melamun dan memasang raut muka yang sangat sedih, dan terlihat benih air mata yang sebentar lagi terjatuh dari bola mata annisa yang di hiasi bulu mata seindah bulu burung enggang.  Guru BK itu adalah guru matematika di kelasnya dan menurutnya guru itu sangat killer sehingga hal itu membuat annisa bercerita jujur kepada guru BK itu yang bernama Pak Arif.
“Jadi gini pak, saya ini punya masalah yang sangat  membuat saya memikirkannya terus-menerus. Saya sangat kesulitan belajar matematika pak, dan saya sangat malu pak.  Karena kakak saya pintar dan cerdas pak bahkan mereka sering mendapati juara di kelas mereka masing-masing.  Saya ingin seperti mereka pak, saya sudah berusaha sendiri pak untuk bisa seperti kakak-kakak saya, tapi hal itu tidak berhasil dan sepertinya saya sangat membutuhkan pendamping pak untuk belajar”jawab Annisa panjang lebar
“Jadi begitu permasalahannya tenang saja bapak akan membantumu nak! Asal kamu memiliki niat yang sangat kuat insyaAllah bapak akan serius membantumu”.  Jawab pak Arif dengan nada meyakinkan dan dengan mengelus kepala Annisa.
“Tapi saya tidak mempunyai uang untuk membayarnya pak, saya ini dari keluarga yang kurang mampu pak, terimakasih atas tawaran bapak” Jawab Annisa dengan nada sedih
“Bapak tidak meminta gaji nak, bapak ikhlas ingin membantumu, Bapak adalah seorang guru dan bapak harus membagikan ilmu bapak kepada yang membutuhkannya.  Sungguh bapak menjadi seorang guru tidak hanya untuk mendapatkan uang nak, tapi bapak menjadi seorang guru hanya ingin melihat generasi penerus bangsa ini menjadi generasi berkarakter dan sukses”
 Subhanallah, Annisa baru menyadari bahwa begitu baiknya Guru yang selama ini di anggapnya guru killer,  Ia sangat menyesali betapa bersalahnya dia telah menganggap pak Arif guru yang tidak baik.  Padahal semua hipotesisnya tentang itu adalah kebalikannya.  Pak Arif adalah guru yang sangat baik dan beliau adalah guru yang sangat bertanggung jawab, beliau adalah guru yang snagat menghargai waktu dan sangat peduli dengan generasi penerus bangsa.  Annisa pun segara berterimakasih dan menangis di depan guru itu, dia meminta maaf karena telah beranggapan buruk tentang pak gultom, dan dia langsung mencium tangan pak Arif.  Pak Arif yang melihat Annisa berlaku seperti itu sangat terkesan, beliau segera menasihati annisa dengan kata-kata bijak.  Setelah itu beliau kembali ke ruangannya untuk melanjutkan tugasnya.
Tak lama kemudian bel berbunyi tanda jam belajar akan segera dimulai, teman sebangkunyapun duduk disebelahnya dengan senyuman semangat pagi menjalani aktivitas sekolah, namanya Lia tepatnya Amalia Nur Hasanah. Lia adalah seorang anak yang pintar, ibu bapaknya juga pintar bahkan adik dan kakaknya juga.Annisa sangat ingin seperti Lia, ia ingin sekali membanggakan orangtuanya. 
“Assalamu’alaikum.  Pagi anak-anak,  Ketua kelas langsung pimpin do’a ya!” Pak Arif pun guru Matematika masuk untuk mengisi pelajaran.
“Wa’alaikum salam, siap pak!” jawab ketua kelas dengan gagah berani.
Usai berdo’a  Pak Arifpun memulai pelajaran matematikanya dengan semangat yang menggebu-gebu, bagaimana tidak? Ekspresinya terlihat sekali saat dia sedang mengajar.  Saat mereka sudah terlihat bosan dengan pelajarannya, tak lepas pak Arif memberi mereka gurauan agar suasana tidak menjadi hening dan ngantuk layaknya di kuburan.  Pak Arif sangat ceria hari ini, seperti ada fill yang berbeda di guru matematika ini.  Taklama Pak Arif menerangkan pelajarannya, ia pun mendatangi Annisa yang daritadi tampak memerhatikan pelajaran matematika dengan serius.  Begitu senang hati Pak Arif karena ia melihat kesungguhan Annisa yang pantang menyerah dalam berusaha untuk bisa. 
“Nak, pulang sekolah nanti bapak sudah bisa mengajarmu, bagaimana? Apakah kamu setuju?”
“Bener nih pak? Iya deh pak, siip saya sudah tidak sabar ingin mengalahakan nilai kakak-kakak saya, terimakasih pak”
Pak Arifpun kembali kedepan untuk memberikan soal kepada anak-anak, yaaa seperti biasa, mayoritas sekelas mengeluh walaupun sebagian tidak.  Itulah kebiasaan anak-anak.  Pak Arifpun segera member pesan kepada anak-anak agar mengerjakan apapun itu harus dengan ikhlas agar nantinya menjadi berkah.  Terlihat sekali ia sangat ingin anak-anak didiknya nanti menjadi penerus yang dapat dipercaya.  Anak-anakpun termasuk Annisa mengerjakan tugas dengan baik dan mengumpulkan kepada Pak Arif setelah selesai mengerjakannya.  Pak Arif tersenyum, setelah semua tugas sudah di kumpul.
“Semoga nilainya memuaskan ya anak-anak, bapak akhiri Assalamu’alaikum Wr.Wb”.  Pak Arif pun mengakhiri pelajarannya
“Wa’alaikum salam Wr.Wb”.  Jawab anak sekelas serempak dan semangat.
Tak terasa lamanya disekolah, bel tanda waktunya pulangpun berbunyi.  Annisa dan teman-temannyapun bergegas meninggalkan kelas.  Tetapi Annisa dan Temannya keluar dari kelas dengan tujuan berbeda, jika teman-temannya keluar dari kelas dengan tujuan untuk pulang ke rumah, beristirahat, makan siang, lain halnya dengan Annisa, ia pergi keluar kelas bergegas untuk mengambil air wudhu.  Setelah sholat ia pun segera mendatangi Pak Arif di ruangannya untuk menerima pelajaran tambahan matematika.  Pelajaranpun berjalan dengan lancar.  Pak Arif sangan senang karena ia merasa sudah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang guru, begitu juga dengan Annisa, ia sangat senang karena selain ilmu yang didapatnya dari Pak Arif ia juga bisa menambah keakrabannya dengan Pak Arif.  Pak Arif melajarinya dengan sabar sampai ia benar-benar bisa dan Annisa yang merasa bahwa Pak Arif benar-benar sabar melajarinya menjalani dengan pantang menyerah tanpa kenal lelah.
Suara azan ashar membuat mereka menghentikan kegiatan.  Annisa pun pulang dan sangat berterimakasih kepada Pak Arif, ia segera melangkahkan kakinya dan menyebrang jalan raya kemudian mengetuk pintu rumahnya.
“Kamu kemana saja?  Kok baru pulang jam segini”Tanya mama Annisa dengan nada sedikit marah.
“Maaf ma, sekarang Annisa mengikuti pelajaran tambahan matematika jadi Annisa pulang terlambat, Annisa ingin melihat mama bangga, Annisa ingin seperti Kak Melati yang selalu di puji mama karena selalu mendapat juara kelas.  Annisa juga ingin ma melihat mama memuji Annisa.  Annisa akan membuktikan bahwa Annisa bisa mendapat nilai bagus” jawab Annisa sambil tersedu-sedu.
“maafkan mama ya nak! Seharusnya mama tidak membuatmu iri dengan kakakmu, baiklah kalau begitu, buatlah mama senang nak! Terus berusaha untuk mengejar cita-citamu, mama yakin kamu bisa” jawab mamanya yang dari tadi ternyata sudah meneteskan air mata.
“Terimakasih ma, Annisa saying mama”
Annisa pun segera masuk ke kamar dan mengganti baju, usai ganti baju iapun mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci piring, dan mencuci baju kemudian langsung mandi.  Setelah waktu maghrib iabelajar untuk pelajaran besok sampai waktu sholat isya, Ba’da isya di isinya dengan menghibur dirinya dengan menonton atau membuat sesuatu yang unik sampai jam 10 malam lalu ia pun tidur.  Annisa memang anak yang terbilang rajin bahkan lebih rajin dari kakak-kakaknya.
Pagi menyambutnya lagi, seperti biasa Annisa melakukan rutinitas paginya setelah itu ia berangkat kesekolah.  Annisa selalu datang paling pagi  dan terkadang ia mengisi waktu kosongnya untuk membaca.  Sampai akhirnya teman-temannya datang baru ia menyudahi membacanya dan ikut berkumpul dengan teman-temannya yang dari kecil sudah bersahabat, yaitu Wulan, Mayang, Dayat, Tara, Wawan, dan Lia.  Mereka selalu menghabiskan waktu bersama di istirahat sekolah.  Terkadang belajar mereka bila di luar jam sekolah juga bersama.  Annisa terkadang merasa malu karena ia selalu mendapat peringkat terendah di banding dengan semua temannya, namun hal itu membuatnya lebih semangat dalam belajar.  Ia harus membuktikan bahwa ia bisa, itulah yang ada dalam pikiran Annisa.  Jam pelajaran telah usai, seperti biasa Annisa melakukan rutinitasnya seperti biasa, belajar, belajar, dan belajar begitu juga sampai hari seterusnya. 
Tak  terasa sudah 1  bulan lebih ia belajar dengan Pak Arif dan ia pun harus mengakhiri pelajaran tambahannya bersama Pak Arif karena sudah akan di adakan bimbel untuk persiapan UN nanti.  Pak Arif sedih tapi beliau juga sangat senang karena disisi lain ia melihat nilai Annisa yang mulai meningkat.  Annisa mengucapkan terimakasihnya kepada Pak Arif yang selama ini sudah mengajarinya dengan sabar dan tak putus asa. Ia menangis di hadapan Pak Arif karena tak ada guru yang sebaiknya yang mengajari dengan Sabar, ikhlas, tanpa di gaji.
“Ya Rahman, Ya rahim treimakasih engkau telah mengirimkan malaikat tanpa sayap kepadaku”.  Ucapnya dalam hati dengan tetesan berlinang air mata.  Annisa pun segera pulang ke rumah usai pelajaran sekolah selesai.  Besok adalah hari pertama bimbel disekolahnya, ia harus menyiapkan tenaga dan pikiran menghadapi hari esok.
Bimbel pertama sudah dimulai, Annisa pun berdo’a sebelum ia belajar agar ilmu yang didapatnya nanti berkah.  Annisa memerhatikan guru didepan dengan serius dan menanyakan apapun yang tidak di mengertinya.  Annisa sekarang mulai menonjol di dalam kelas karena aktif bertanya dan nilai matematikanya yang sekarang mulai meningkat.  Teman sekelasnya sangat kaget melihat peningkatannya yang begitu drastis, maklumlah dulu nilai matematika Annisa hanya dibawah 5 tapi sekarang nilainya selalu melebihi KKM.  Mulut-mulut yang dulunya mencemoohkan Annisa sekarang telah berganti dengan mulut-mulut manis yang memuji-muji kepintaran Annisa, ia sangat senang perjuangannya tak sia-sia.  Semua itu berkat Pak Arif yang telah mengajarinya dengan rela, tulus, ikhlas dan juga berkat Allah SWT, tanpa Allah apalah arti dari semua itutanpa Allah semua itu tidak akakn terjadi.
Bimbingan Belajar pertama Annisa berjalan dengan lancar,  Annisa yang dulunya bertanya dengan teman-temannya jika ada hal yang tidak di tahu sekarang berbalik, Teman-temannya sekarang selalu merubungi Annisa jika ada sesuatu hal pelajaran yang tidak ditahu. Entah kenapa tidak hanya mata pelajaran matematikanya saja yang hanya mendapat nilai tinggi, namun seiring dengan berjalannya waktu semua mata pelajaran didapati Annisa dengan nilai yang memuaskan.  Semua itu karena matematika, matematika dapat mengubah semuanya menjadi nyata, matematika itu tantangan, permainan, dan ibarat seperti menonton drama korea yang semakin di dalami semakin asik ceritanya.  Itulah matematika menurut Annisa dan Pak Arif.
Annisa menjalani hari-harinya seperti biasa, Ibunya sangat senang karena nilai Annisa meningkat.  Tetapi Annisa cukup kecewa dengan Ibunya, karena jerih payahnya itu hanya di respon singkat dan biasa saja.  Ibu Annisa memang tak pernah menyuruhnya belajar, bahkan masalah nilai tak pernah ditahunya, Annisa jadi merasa bahwa ia tak diperhatikan oleh orangtuanya tapi disisi lain ia sangat yakin bahwa ada cara lain yang dilakukan ibunya untuk memerhatikannya, ia yakin bahwa ibunya sangat menyayanginya.
Tak terasa bimbel telah berjalan selama 2 bulan, tinggal 1 bulan lagi kontrak bimbel akan habis dan Annisa akan menjalani UN, Pak Arif selalu menasihati Annisa jika bertemu, entah sepatah dua kata Pak Arif selalu menyelipkan sedikit motivasi untuknya.  Ia sangat bersyukur ada guru yang sebaik Pak Arif mengajar di sekolahnya, karena tanpa beliau ia tak mungkin mendapatkan peningkatan nilai yang sangat drastis.  Terkadang ia menangis jika mengingat dulu, karena teman-temannya dulu sangat meremehkannya, begitu juga dengan keluarganya.  Tak sedikit orang yang meremehkan kemampuannya.  Tetapi sekarang ia sudah tidak dapat diremehkan lagi.
“Terimakasih Ya Allah, engkau telah mengirimkan Pak Arif, guru yang sangat baik untuk menolongku, yang telah menyemangatiku untuk terus bangkit dan tak pernah putus asa, berilah beliau pahala tanpa batas karena ketulusannya Ya Allah”.  
Matahari di sore hari segera menyembunyikan sinar manisnya ke perut bumi, Annisa mengambil air wudhu dan segera melaksanakan sholat Maghrib bersama keluarganya, Annisa berdo,a agar UN nya nanti berjalan dengan lancar, begitu juga dengan seterusnya Annisa terus berdo’a agar hasil UN nya mendapatkan nilai yang memuaskan.  Malam itu ia terlihat sangat serius belajar, bagaimana tidak, ternyata besok adalah hari yang sangat di tunggu-tunggunya.  Besok adalah hari pertamanya menjalani Ujian Nasional.
“Bismillahirrohmanirrohim” ucap Annisa dalam hati,  pagi seolah mendukung Ujian Nasional pada hari ini, Annisa segera melangkahkan kakinya menuju sekolahnya, sesampainya disekolah ia mencari tempat duduknya yang ternyata telah di tata rapi sehari sebelum UN kemarin.
Dag,dig dug lembar soal dan jawaban dibagikan, jantung Annisapun berdegup kencang karena akan melawan Perang Dunia ke I, awalnya Annisa merasa takut, karena tidak bisa menjawab soal-soal yang ada di lembar soal itu, tapi setelah Annisa membaca soal pertama ia sangat senang karena ternyata soal itu terlihat mudah begitu pula seterusnya walaupun ada sebagian soal yang dapat dibilang sulit, tapi Annisa bersyukur karena dominan ia dapat mengerjakan soal lebih banyak daripada yang tak terjawab atau hanya menebak.  Ujian telah selesai, ia merasa satu bebannya telah hilang karena telah melewati satu tantangan, tinggal tiga tantangan lagi yang harus ia hadapi.
Sesampainya dirumah Annisa belajar lagi, tak peduli dengan ributnya suasana diluar rumah ia tetap belajar walau terkadang ia ingin sekali keluar jalan bersama teman-temannya.
“Aku harus bisa, pokoknya aku gak, akan keluar rumah sebelum ujian selesai”ucap Annisa yakin.  Tak terasa sudah malam, Annisa pun bergegas untuk tidur agar besok ia tak terlambat datang kesekolah dan ada waktu senggang untuk mengulang lagi yang sudah dipelajarinya.  Setelah ia tidur ia disusul kakaknya Rina yang tidur di sebelahnya, Rina melihat sebuah buku yang terletak di samping bantal adiknya dan segera memindahkannya ke meja.  Betapa bahagianya Rina melihat sebuah buku disamping bantal adiknya, karena jarang sekali Annisa seperti ini.  Rina pun kemudian tidur, tetapi sebelum tidur ia mendo’akan agar Ujian adiknya dapat berjalan dengan lancar.
Pagi menyapa Perang Dunia ke II Annisa hari ini, Annisa bergegas mempersiapkan untuk hari ini, begitu pula dengan seterusnya ia selalu mempersiapkannya dengan baik, Selama 4 hari berturut-turut ia bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan sholat tahajjud, ia memang sangat bersungguh-sungguh untuk lulus dengan nilai yang memuaskan, ia akan buktikan kepada dunia bahwa ia bisa, tak seperti apa yang dikatakan oleh kebanyakan orang sekitarnya dulu bahwa ia tak bisa apa-apa, ia tak akan sukses.  Betapa sedihnya ia ketika mengingat masa lalu masa lalu yang menyayat hatinya.
Ujian Nasional telah terlewati sebulan, tinggal menunggu waktunya saja untuk melihat hasilnya,  InsyaAllah hasil ujian akan di lihatkan besok di sekolah, tepat jam 9 pagi.  Annisa hanya bisa berdo’a semoga apa yang diharapkannya tercapai, perjuangan beelajar dengan malaikat tanpa sayapnya tak sia-sia, semoga hasilnya nanti dapat membanggakan kedua orangtuanya, keluarga, teman-teman, serta Pak Arif yang tak kenal lelah mengajarinya.  Di ambilnya selembar daun di halaman rumahnya yang indah itu, kemudian di robek-robeknya hingga menjadi bagian-bagian yang paling kecil karena ia bosan dan takut menghadapi hari esok, namun apapun yang terjadi ia harus juga melewati hari esok.
Petang hari tak terasa lagi datang, Ia segera bergegas masuk ke rumah dengan perasaan yang masih tidak enak, mulutnya hanya bisa komat-kamit membaca do’a untuk hasil UN esok.  Ia segera mengambil sapu untuk menyapu kamarnya yang ternyata masih kotor, setelah itu ia beristirahat dengan tenang.  Waktu sholat ia sholat, waktu makan ia makan, dan waktu belajar masih dijalankannya dengan baik walau semua beban telah hilang, ia selalu mengingat kata-kata Pak Arif bahwa waktu adalah uang, untuk itu ia selalu memanfaatkan waktu senggangnya sebaik-baiknya.
Tok..tok…tok
“Nisa? Ayo bangun nak, sudah pagi” panggil ibunya membangunkan Annisa
“Iya bu,”.  Begitulah Annisa karena hari libur, ia sekali-kali tidur setelah melaksanakan sholat Subuh, dan terbangun jam 8 pagi.  Annisa segera mandi, dan menyiapkan dirinya untuk menyebrang ke seberang jalan raya didepan rumahnya, sekolah telah menantinya, dengan pakaian putih biru berdasi yang rapi dan licin, sepatu tali yang terikat rapi, dan jilbab putih yang menutupi auratnya menjadikan dirinya terlihat siap untuk melangkahkan kainya melihat hasil UN.
“Permisi,permisi”.  Annisa ricuh ingin melihat papan pengumuman.
“apaa? Hah? Aku?”.  Annisa tercengang dan mungkin bisa saja jatuh pingsan disitu karena merasakan kebahagiaan yg tiada tara.
“aku di urutan kedua? Subhanallah, Allahuakbar.  Sungguh adilnya engkau Ya Allah, Alhamdulillah. Terimakasih juga pak Arif yang telah mengajariku sehingga aku berada di urutan kedua dengan nilai yang memuaskan ini”.  Annisa sangat mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT untuknya.  Terlihat beberapa teman-temannya mengucapkan selamat kepadanya dan mendo’akan untuk kedepannya agar lebih baik lagi.
Siang itu setelah hasil Ujian di paparkan di papan pengumuman, ia mendatangi Pak Arif untuk berterimakasih kepada beliau, Annisa sangat senang karena semua nasehat yang diberikan beliau di jalankan dengan baik membuahkan hasil.  Di ruang guru terlihat kepala yang berambut tebal berwarna hitam legam dari kaca jendela, tak salah lagi bahwa itu adalah Pak Arif yang sedang bercakap-cakap dengan guru yang lain, iapun segera masuk ke dalam ruang guru mendatangi Pak Arif.  Belum ia tepat di depan Pak Arif ia sudah disambut oleh guru-guru lain dengan ucapan selamat, guru sangat bangga kepada Annisa.
“Selamat ya nak,” ucap seorang guru yang berdiri tepat dibelakang pintu sambil menyalaminya.
“Sama-sama bu Terimakasih !” jawab Annisa sembari menyambut tangan guru itu.
“Permisi, boleh saya bertemu dengan Pak Arif sebentar!”.  Annisapun segera menemui Pak Arif.

“Pak, saya sangat berterimakasih pada bapak, berkat Tuhan dan bapak saya bisa meraih nilai yang memuaskan dan menduduki peringkat kedua, engkau malaikat tanpa sayap saya pak, terimakasih pak”.  Ketulusannya sangat terlihat jelas berterimakasih pada pak Arif karena berkat beliau Annisa merasa bisa dibanggakan dan patut dibanggakan.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Ulfah's Blog Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template