MALAIKAT TANPA SAYAP
“Allahuakbar Allahuakbar”,
Terdengar suara adzan yang indah dan merdu dari samping rumah Annisa, ya !
panggilan Allah sudah datang, yang menarik Annisa untuk segera bangkit bergegas
melaksanakan kewajibannya. Setelah
sholat Subuh ia pun belajar sekitar 15 menit dan setelah itu ia segera
mandi. Jam sudah menunjukkan pukul 06:00
pagi, Annisa yang ternyata dari tadi berada di dapur bersama ibunya telah
selesai memasak.
Mereka pun segera menyiapkan makan,
Piring dan gelas di tata rapi di lengser yang terbuat dari seng dan
aluminium. Annisa segera menumpahkan air
putih ke masing-masing gelas yang berada di atas lengser, kemudian mengambil
nasi dan lauk di tempat yang terpisah.
Begitulah keseharian Annisa, setiap hari ia membantu ibunya, pagi ia
membantu ibunya masak didapur, sepulang sekolah dia menyapu rumah beserta
halamannya dan malam adalah waktunya untuk istirahat. Terkadang waktu malam di pakainya juga untuk
bekerja membantu ibunya untuk mencuci pakaian karena dia tidak tega melihat
ibunya bekerja sendiri.
“Annisa…?” panggil ibunya dengan nada sangat lembut
“Iya bu, ada apa”
“Annisa, lekas panggil ayah, kakakmu Melati dan Karim untuk
makan pagi bersama ya” perintah ibunya.
“Oke ibu ku sayang”.
Beberapa
menit kemudian, mereka semua sudah berkumpul di dapur untuk makan bersama,
cukup sederhana cara mereka makan. Mereka duduk membentuk lingkaran di lantai
dengan alas dari selembar karpet yang terbuat dari rotan, terlihat sekali
mereka masih sangat mebudayakan adat tradisional mereka. Banyak tetangga mereka yang sangat salut
dengan mereka karena di tengah era modern ini mereka masih membudayakan adat
mereka dan tidak terpengaruh oleh budaya modern. Mereka memang termasuk keluarga yang sangat
mencintai Indonesia termasuk juga budayanya.
Ayahnya
yang tertua mendahului mengambil nasi, kemudian yang tertua di bawah ayahnya
lagi, dan begitu seterusnya sesuai dengan adat mereka. Mereka semua makan dengan tenang kecuali
Annisa yang dari tadi tampak badmood dan sedang melamun, ternyata Annisa sedang
memikirkan prestasinya “apa yang ku punya? Prestasi apa? Apa yang bisa buat
orang tua aku bangga sama aku, aku sangat malu semua kakakku 22nya
pintar-pintar dan cerdas, sering mendapatkan prestasi gemilang, sedangkan aku??
Menyandang 10 besar di kelas saja tidak pernah, aku harus bisa, aku harus bisa
lebih dari mereka, aku tidak ingin membuat malu mereka !” lamunanya di dalam
hatinya yang sedang menangis.
“Adek…?? Kamu mikirin apa? Kamu gakpapa kan?, o yaa hari ini
kakak ikut Olimpiade MIPA loh, doa in yah dek, oh ya doa in juga ya bu, yah,
kak karim” Tanya kakaknya sekaligus
meminta doa ayah, ibu dan kakaknya.
“baik baik aja kok kak, tenang aja kak kami semua selalu
doain kakak kok”. Jawab Annisa dengan
datar karena merasa iri melihat kakaknnya di puji-puji daritadi, ia ingin sekali seperti kakaknya.
Tak
terasa sudah setengah jam mereka makan dan bercanda di dapur, Annisa pun segera
menyebrang berangkat ke sekolah karena memang letak sekolahnya di depan rumah
dan kakak-kakaknya segera berangkat juga
di antar oleh ayahnya ke sekolah.
“Bu, yah berangkat dulu yah Assalamu’alaikum” pamitku dan
kakakku sembari mencium kedua tangan orangtuaku.
“wa,alaikum salam”
Annisa
dalam sekejap mata sudah sampai disekolah dan ia segara meletakkan tasnya di laci
meja belajarnya, ia pun duduk dan tiba-tiba seorang guru tidak sengaja lewat
depan kelas annisa dan melihatnya sedang melamun, guru BK yang ternyata guru tingkat kelasnyapun, kelas
VII menghampiri annisa. Annisapun kaget karena guru BK itu menepuk pundaknya. Ia baru menyadari bahwa ia tadi sedang
melamun, Pak BK pun segera bertanya mengapa Annisa melamun dan memasang raut
muka yang sangat sedih, dan terlihat benih air mata yang sebentar lagi terjatuh
dari bola mata annisa yang di hiasi bulu mata seindah bulu burung enggang. Guru BK itu adalah guru matematika di
kelasnya dan menurutnya guru itu sangat killer sehingga hal itu membuat annisa
bercerita jujur kepada guru BK itu yang bernama Pak Arif.
“Jadi gini pak, saya ini punya masalah yang sangat membuat saya memikirkannya terus-menerus.
Saya sangat kesulitan belajar matematika pak, dan saya sangat malu pak. Karena kakak saya pintar dan cerdas pak
bahkan mereka sering mendapati juara di kelas mereka masing-masing. Saya ingin seperti mereka pak, saya sudah
berusaha sendiri pak untuk bisa seperti kakak-kakak saya, tapi hal itu tidak
berhasil dan sepertinya saya sangat membutuhkan pendamping pak untuk
belajar”jawab Annisa panjang lebar
“Jadi begitu permasalahannya tenang saja bapak akan
membantumu nak! Asal kamu memiliki niat yang sangat kuat insyaAllah bapak akan
serius membantumu”. Jawab pak Arif
dengan nada meyakinkan dan dengan mengelus kepala Annisa.
“Tapi saya tidak mempunyai uang untuk membayarnya pak, saya
ini dari keluarga yang kurang mampu pak, terimakasih atas tawaran bapak” Jawab
Annisa dengan nada sedih
“Bapak tidak meminta gaji nak, bapak ikhlas ingin
membantumu, Bapak adalah seorang guru dan bapak harus membagikan ilmu bapak
kepada yang membutuhkannya. Sungguh
bapak menjadi seorang guru tidak hanya untuk mendapatkan uang nak, tapi bapak
menjadi seorang guru hanya ingin melihat generasi penerus bangsa ini menjadi
generasi berkarakter dan sukses”
Subhanallah, Annisa baru menyadari bahwa
begitu baiknya Guru yang selama ini di anggapnya guru killer, Ia sangat menyesali betapa bersalahnya dia telah
menganggap pak Arif guru yang tidak baik.
Padahal semua hipotesisnya tentang itu adalah kebalikannya. Pak Arif adalah guru yang sangat baik dan
beliau adalah guru yang sangat bertanggung jawab, beliau adalah guru yang
snagat menghargai waktu dan sangat peduli dengan generasi penerus bangsa. Annisa pun segara berterimakasih dan menangis
di depan guru itu, dia meminta maaf karena telah beranggapan buruk tentang pak
gultom, dan dia langsung mencium tangan pak Arif. Pak Arif yang melihat Annisa berlaku seperti
itu sangat terkesan, beliau segera menasihati annisa dengan kata-kata
bijak. Setelah itu beliau kembali ke
ruangannya untuk melanjutkan tugasnya.
Tak lama kemudian bel berbunyi
tanda jam belajar akan segera dimulai, teman sebangkunyapun duduk disebelahnya
dengan senyuman semangat pagi menjalani aktivitas sekolah, namanya Lia tepatnya
Amalia Nur Hasanah. Lia adalah seorang anak yang pintar, ibu bapaknya juga
pintar bahkan adik dan kakaknya juga.Annisa sangat ingin seperti Lia, ia ingin
sekali membanggakan orangtuanya.
“Assalamu’alaikum. Pagi anak-anak, Ketua kelas langsung pimpin do’a ya!” Pak
Arif pun guru Matematika masuk untuk mengisi pelajaran.
“Wa’alaikum salam, siap pak!” jawab
ketua kelas dengan gagah berani.
Usai berdo’a Pak Arifpun memulai pelajaran matematikanya
dengan semangat yang menggebu-gebu, bagaimana tidak? Ekspresinya terlihat
sekali saat dia sedang mengajar. Saat
mereka sudah terlihat bosan dengan pelajarannya, tak lepas pak Arif memberi
mereka gurauan agar suasana tidak menjadi hening dan ngantuk layaknya di
kuburan. Pak Arif sangat ceria hari ini,
seperti ada fill yang berbeda di guru matematika ini. Taklama Pak Arif menerangkan pelajarannya, ia
pun mendatangi Annisa yang daritadi tampak memerhatikan pelajaran matematika
dengan serius. Begitu senang hati Pak
Arif karena ia melihat kesungguhan Annisa yang pantang menyerah dalam berusaha
untuk bisa.
“Nak, pulang sekolah nanti bapak
sudah bisa mengajarmu, bagaimana? Apakah kamu setuju?”
“Bener nih pak? Iya deh pak, siip
saya sudah tidak sabar ingin mengalahakan nilai kakak-kakak saya, terimakasih
pak”
Pak Arifpun kembali kedepan untuk
memberikan soal kepada anak-anak, yaaa seperti biasa, mayoritas sekelas
mengeluh walaupun sebagian tidak. Itulah
kebiasaan anak-anak. Pak Arifpun segera
member pesan kepada anak-anak agar mengerjakan apapun itu harus dengan ikhlas
agar nantinya menjadi berkah. Terlihat
sekali ia sangat ingin anak-anak didiknya nanti menjadi penerus yang dapat
dipercaya. Anak-anakpun termasuk Annisa
mengerjakan tugas dengan baik dan mengumpulkan kepada Pak Arif setelah selesai
mengerjakannya. Pak Arif tersenyum,
setelah semua tugas sudah di kumpul.
“Semoga nilainya memuaskan ya
anak-anak, bapak akhiri Assalamu’alaikum Wr.Wb”. Pak Arif pun mengakhiri pelajarannya
“Wa’alaikum salam Wr.Wb”. Jawab anak sekelas serempak dan semangat.
Tak terasa lamanya disekolah, bel
tanda waktunya pulangpun berbunyi.
Annisa dan teman-temannyapun bergegas meninggalkan kelas. Tetapi Annisa dan Temannya keluar dari kelas
dengan tujuan berbeda, jika teman-temannya keluar dari kelas dengan tujuan
untuk pulang ke rumah, beristirahat, makan siang, lain halnya dengan Annisa, ia
pergi keluar kelas bergegas untuk mengambil air wudhu. Setelah sholat ia pun segera mendatangi Pak
Arif di ruangannya untuk menerima pelajaran tambahan matematika. Pelajaranpun berjalan dengan lancar. Pak Arif sangan senang karena ia merasa sudah
melaksanakan kewajibannya sebagai seorang guru, begitu juga dengan Annisa, ia
sangat senang karena selain ilmu yang didapatnya dari Pak Arif ia juga bisa
menambah keakrabannya dengan Pak Arif.
Pak Arif melajarinya dengan sabar sampai ia benar-benar bisa dan Annisa
yang merasa bahwa Pak Arif benar-benar sabar melajarinya menjalani dengan
pantang menyerah tanpa kenal lelah.
Suara azan ashar membuat mereka
menghentikan kegiatan. Annisa pun pulang
dan sangat berterimakasih kepada Pak Arif, ia segera melangkahkan kakinya dan
menyebrang jalan raya kemudian mengetuk pintu rumahnya.
“Kamu kemana saja? Kok baru pulang jam segini”Tanya mama Annisa
dengan nada sedikit marah.
“Maaf ma, sekarang Annisa mengikuti
pelajaran tambahan matematika jadi Annisa pulang terlambat, Annisa ingin
melihat mama bangga, Annisa ingin seperti Kak Melati yang selalu di puji mama
karena selalu mendapat juara kelas.
Annisa juga ingin ma melihat mama memuji Annisa. Annisa akan membuktikan bahwa Annisa bisa
mendapat nilai bagus” jawab Annisa sambil tersedu-sedu.
“maafkan mama ya nak! Seharusnya mama
tidak membuatmu iri dengan kakakmu, baiklah kalau begitu, buatlah mama senang
nak! Terus berusaha untuk mengejar cita-citamu, mama yakin kamu bisa” jawab
mamanya yang dari tadi ternyata sudah meneteskan air mata.
“Terimakasih ma, Annisa saying
mama”
Annisa pun segera masuk ke kamar
dan mengganti baju, usai ganti baju iapun mengerjakan pekerjaan rumah seperti
menyapu, mencuci piring, dan mencuci baju kemudian langsung mandi. Setelah waktu maghrib iabelajar untuk pelajaran
besok sampai waktu sholat isya, Ba’da isya di isinya dengan menghibur dirinya
dengan menonton atau membuat sesuatu yang unik sampai jam 10 malam lalu ia pun
tidur. Annisa memang anak yang terbilang
rajin bahkan lebih rajin dari kakak-kakaknya.
Pagi menyambutnya lagi, seperti
biasa Annisa melakukan rutinitas paginya setelah itu ia berangkat
kesekolah. Annisa selalu datang paling
pagi dan terkadang ia mengisi waktu kosongnya
untuk membaca. Sampai akhirnya
teman-temannya datang baru ia menyudahi membacanya dan ikut berkumpul dengan
teman-temannya yang dari kecil sudah bersahabat, yaitu Wulan, Mayang, Dayat,
Tara, Wawan, dan Lia. Mereka selalu
menghabiskan waktu bersama di istirahat sekolah. Terkadang belajar mereka bila di luar jam
sekolah juga bersama. Annisa terkadang
merasa malu karena ia selalu mendapat peringkat terendah di banding dengan
semua temannya, namun hal itu membuatnya lebih semangat dalam belajar. Ia harus membuktikan bahwa ia bisa, itulah
yang ada dalam pikiran Annisa. Jam pelajaran
telah usai, seperti biasa Annisa melakukan rutinitasnya seperti biasa, belajar,
belajar, dan belajar begitu juga sampai hari seterusnya.
Tak
terasa sudah 1 bulan lebih ia
belajar dengan Pak Arif dan ia pun harus mengakhiri pelajaran tambahannya
bersama Pak Arif karena sudah akan di adakan bimbel untuk persiapan UN
nanti. Pak Arif sedih tapi beliau juga
sangat senang karena disisi lain ia melihat nilai Annisa yang mulai meningkat. Annisa mengucapkan terimakasihnya kepada Pak
Arif yang selama ini sudah mengajarinya dengan sabar dan tak putus asa. Ia
menangis di hadapan Pak Arif karena tak ada guru yang sebaiknya yang mengajari
dengan Sabar, ikhlas, tanpa di gaji.
“Ya Rahman, Ya rahim treimakasih
engkau telah mengirimkan malaikat tanpa sayap kepadaku”. Ucapnya dalam hati dengan tetesan berlinang
air mata. Annisa pun segera pulang ke
rumah usai pelajaran sekolah selesai.
Besok adalah hari pertama bimbel disekolahnya, ia harus menyiapkan
tenaga dan pikiran menghadapi hari esok.
Bimbel pertama sudah dimulai,
Annisa pun berdo’a sebelum ia belajar agar ilmu yang didapatnya nanti
berkah. Annisa memerhatikan guru didepan
dengan serius dan menanyakan apapun yang tidak di mengertinya. Annisa sekarang mulai menonjol di dalam kelas
karena aktif bertanya dan nilai matematikanya yang sekarang mulai
meningkat. Teman sekelasnya sangat kaget
melihat peningkatannya yang begitu drastis, maklumlah dulu nilai matematika
Annisa hanya dibawah 5 tapi sekarang nilainya selalu melebihi KKM. Mulut-mulut yang dulunya mencemoohkan Annisa
sekarang telah berganti dengan mulut-mulut manis yang memuji-muji kepintaran
Annisa, ia sangat senang perjuangannya tak sia-sia. Semua itu berkat Pak Arif yang telah
mengajarinya dengan rela, tulus, ikhlas dan juga berkat Allah SWT, tanpa Allah
apalah arti dari semua itutanpa Allah semua itu tidak akakn terjadi.
Bimbingan Belajar pertama Annisa
berjalan dengan lancar, Annisa yang
dulunya bertanya dengan teman-temannya jika ada hal yang tidak di tahu sekarang
berbalik, Teman-temannya sekarang selalu merubungi Annisa jika ada sesuatu hal
pelajaran yang tidak ditahu. Entah kenapa tidak hanya mata pelajaran
matematikanya saja yang hanya mendapat nilai tinggi, namun seiring dengan
berjalannya waktu semua mata pelajaran didapati Annisa dengan nilai yang
memuaskan. Semua itu karena matematika,
matematika dapat mengubah semuanya menjadi nyata, matematika itu tantangan,
permainan, dan ibarat seperti menonton drama korea yang semakin di dalami
semakin asik ceritanya. Itulah
matematika menurut Annisa dan Pak Arif.
Annisa menjalani hari-harinya
seperti biasa, Ibunya sangat senang karena nilai Annisa meningkat. Tetapi Annisa cukup kecewa dengan Ibunya,
karena jerih payahnya itu hanya di respon singkat dan biasa saja. Ibu Annisa memang tak pernah menyuruhnya
belajar, bahkan masalah nilai tak pernah ditahunya, Annisa jadi merasa bahwa ia
tak diperhatikan oleh orangtuanya tapi disisi lain ia sangat yakin bahwa ada
cara lain yang dilakukan ibunya untuk memerhatikannya, ia yakin bahwa ibunya
sangat menyayanginya.
Tak terasa bimbel telah berjalan
selama 2 bulan, tinggal 1 bulan lagi kontrak bimbel akan habis dan Annisa akan
menjalani UN, Pak Arif selalu menasihati Annisa jika bertemu, entah sepatah dua
kata Pak Arif selalu menyelipkan sedikit motivasi untuknya. Ia sangat bersyukur ada guru yang sebaik Pak
Arif mengajar di sekolahnya, karena tanpa beliau ia tak mungkin mendapatkan
peningkatan nilai yang sangat drastis.
Terkadang ia menangis jika mengingat dulu, karena teman-temannya dulu
sangat meremehkannya, begitu juga dengan keluarganya. Tak sedikit orang yang meremehkan
kemampuannya. Tetapi sekarang ia sudah
tidak dapat diremehkan lagi.
“Terimakasih Ya Allah, engkau telah
mengirimkan Pak Arif, guru yang sangat baik untuk menolongku, yang telah
menyemangatiku untuk terus bangkit dan tak pernah putus asa, berilah beliau
pahala tanpa batas karena ketulusannya Ya Allah”.
Matahari di sore hari segera
menyembunyikan sinar manisnya ke perut bumi, Annisa mengambil air wudhu dan
segera melaksanakan sholat Maghrib bersama keluarganya, Annisa berdo,a agar UN
nya nanti berjalan dengan lancar, begitu juga dengan seterusnya Annisa terus
berdo’a agar hasil UN nya mendapatkan nilai yang memuaskan. Malam itu ia terlihat sangat serius belajar,
bagaimana tidak, ternyata besok adalah hari yang sangat di
tunggu-tunggunya. Besok adalah hari
pertamanya menjalani Ujian Nasional.
“Bismillahirrohmanirrohim” ucap
Annisa dalam hati, pagi seolah mendukung
Ujian Nasional pada hari ini, Annisa segera melangkahkan kakinya menuju sekolahnya,
sesampainya disekolah ia mencari tempat duduknya yang ternyata telah di tata
rapi sehari sebelum UN kemarin.
Dag,dig dug lembar soal dan jawaban
dibagikan, jantung Annisapun berdegup kencang karena akan melawan Perang Dunia
ke I, awalnya Annisa merasa takut, karena tidak bisa menjawab soal-soal yang
ada di lembar soal itu, tapi setelah Annisa membaca soal pertama ia sangat
senang karena ternyata soal itu terlihat mudah begitu pula seterusnya walaupun
ada sebagian soal yang dapat dibilang sulit, tapi Annisa bersyukur karena
dominan ia dapat mengerjakan soal lebih banyak daripada yang tak terjawab atau
hanya menebak. Ujian telah selesai, ia
merasa satu bebannya telah hilang karena telah melewati satu tantangan, tinggal
tiga tantangan lagi yang harus ia hadapi.
Sesampainya dirumah Annisa belajar
lagi, tak peduli dengan ributnya suasana diluar rumah ia tetap belajar walau
terkadang ia ingin sekali keluar jalan bersama teman-temannya.
“Aku harus bisa, pokoknya aku gak,
akan keluar rumah sebelum ujian selesai”ucap Annisa yakin. Tak terasa sudah malam, Annisa pun bergegas
untuk tidur agar besok ia tak terlambat datang kesekolah dan ada waktu senggang
untuk mengulang lagi yang sudah dipelajarinya.
Setelah ia tidur ia disusul kakaknya Rina yang tidur di sebelahnya, Rina
melihat sebuah buku yang terletak di samping bantal adiknya dan segera
memindahkannya ke meja. Betapa
bahagianya Rina melihat sebuah buku disamping bantal adiknya, karena jarang
sekali Annisa seperti ini. Rina pun
kemudian tidur, tetapi sebelum tidur ia mendo’akan agar Ujian adiknya dapat
berjalan dengan lancar.
Pagi menyapa Perang Dunia ke II
Annisa hari ini, Annisa bergegas mempersiapkan untuk hari ini, begitu pula
dengan seterusnya ia selalu mempersiapkannya dengan baik, Selama 4 hari
berturut-turut ia bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan sholat tahajjud,
ia memang sangat bersungguh-sungguh untuk lulus dengan nilai yang memuaskan, ia
akan buktikan kepada dunia bahwa ia bisa, tak seperti apa yang dikatakan oleh
kebanyakan orang sekitarnya dulu bahwa ia tak bisa apa-apa, ia tak akan
sukses. Betapa sedihnya ia ketika
mengingat masa lalu masa lalu yang menyayat hatinya.
Ujian Nasional telah terlewati
sebulan, tinggal menunggu waktunya saja untuk melihat hasilnya, InsyaAllah hasil ujian akan di lihatkan besok
di sekolah, tepat jam 9 pagi. Annisa
hanya bisa berdo’a semoga apa yang diharapkannya tercapai, perjuangan beelajar
dengan malaikat tanpa sayapnya tak sia-sia, semoga hasilnya nanti dapat
membanggakan kedua orangtuanya, keluarga, teman-teman, serta Pak Arif yang tak
kenal lelah mengajarinya. Di ambilnya
selembar daun di halaman rumahnya yang indah itu, kemudian di robek-robeknya
hingga menjadi bagian-bagian yang paling kecil karena ia bosan dan takut
menghadapi hari esok, namun apapun yang terjadi ia harus juga melewati hari
esok.
Petang hari tak terasa lagi datang,
Ia segera bergegas masuk ke rumah dengan perasaan yang masih tidak enak,
mulutnya hanya bisa komat-kamit membaca do’a untuk hasil UN esok. Ia segera mengambil sapu untuk menyapu
kamarnya yang ternyata masih kotor, setelah itu ia beristirahat dengan
tenang. Waktu sholat ia sholat, waktu
makan ia makan, dan waktu belajar masih dijalankannya dengan baik walau semua
beban telah hilang, ia selalu mengingat kata-kata Pak Arif bahwa waktu adalah
uang, untuk itu ia selalu memanfaatkan waktu senggangnya sebaik-baiknya.
Tok..tok…tok
“Nisa? Ayo bangun nak, sudah pagi”
panggil ibunya membangunkan Annisa
“Iya bu,”. Begitulah Annisa karena hari libur, ia
sekali-kali tidur setelah melaksanakan sholat Subuh, dan terbangun jam 8
pagi. Annisa segera mandi, dan
menyiapkan dirinya untuk menyebrang ke seberang jalan raya didepan rumahnya,
sekolah telah menantinya, dengan pakaian putih biru berdasi yang rapi dan
licin, sepatu tali yang terikat rapi, dan jilbab putih yang menutupi auratnya
menjadikan dirinya terlihat siap untuk melangkahkan kainya melihat hasil UN.
“Permisi,permisi”. Annisa ricuh ingin melihat papan pengumuman.
“apaa? Hah? Aku?”. Annisa tercengang dan mungkin bisa saja jatuh
pingsan disitu karena merasakan kebahagiaan yg tiada tara.
“aku di urutan kedua? Subhanallah,
Allahuakbar. Sungguh adilnya engkau Ya
Allah, Alhamdulillah. Terimakasih juga pak Arif yang telah mengajariku sehingga
aku berada di urutan kedua dengan nilai yang memuaskan ini”. Annisa sangat mensyukuri nikmat yang
diberikan Allah SWT untuknya. Terlihat
beberapa teman-temannya mengucapkan selamat kepadanya dan mendo’akan untuk
kedepannya agar lebih baik lagi.
Siang itu setelah hasil Ujian di
paparkan di papan pengumuman, ia mendatangi Pak Arif untuk berterimakasih
kepada beliau, Annisa sangat senang karena semua nasehat yang diberikan beliau
di jalankan dengan baik membuahkan hasil.
Di ruang guru terlihat kepala yang berambut tebal berwarna hitam legam
dari kaca jendela, tak salah lagi bahwa itu adalah Pak Arif yang sedang
bercakap-cakap dengan guru yang lain, iapun segera masuk ke dalam ruang guru
mendatangi Pak Arif. Belum ia tepat di
depan Pak Arif ia sudah disambut oleh guru-guru lain dengan ucapan selamat,
guru sangat bangga kepada Annisa.
“Selamat ya nak,” ucap seorang guru
yang berdiri tepat dibelakang pintu sambil menyalaminya.
“Sama-sama bu Terimakasih !” jawab
Annisa sembari menyambut tangan guru itu.
“Permisi, boleh saya bertemu dengan
Pak Arif sebentar!”. Annisapun segera
menemui Pak Arif.
“Pak, saya sangat berterimakasih
pada bapak, berkat Tuhan dan bapak saya bisa meraih nilai yang memuaskan dan
menduduki peringkat kedua, engkau malaikat tanpa sayap saya pak, terimakasih
pak”. Ketulusannya sangat terlihat jelas
berterimakasih pada pak Arif karena berkat beliau Annisa merasa bisa
dibanggakan dan patut dibanggakan.

0 komentar:
Posting Komentar