Senin, 13 April 2015

Cerpen Impianku Masuk SMA Unggulan

Imppianku Masuk SMA Unggulan

          Kukuruyukkkk…, begitulah suara pagi terdengar di gendang telingaku, yang menarikku agar segera bergegas mandi, shalat subuh, belajar dan segera berangkat ke sekolah.  Pukul 07:00 WITA pagi aku sudah berada di sekolah, duduk diruang kelas III A SMPN 2 Samboja, untuk hari pertama masuk sekolah setelah hari libur semester 5.  Ku keluarkan buku IPA dari tas selempang cantikku yang berwarna coklat manis, lalu membolak-balikan halaman beberapa kali tanda tak mengerti dengan apa isi buku itu karena selama libur sangat jarang membuka buku dan mengulang pelajaran seperti apa yang pada kenyataannya benar.  Hari libur adalah hari yang sangat istimewa bagi pelajar, sehingga tidak jarang pelajar menghabiskan waktu liburnya untuk bersantai-santai dan melupakan semua beban pelajaran.  Jadi wajar sajalah jika hari pertama masuk sekolah setelah hari libur banyak pelajaran yang terbengkalai.
          Jam sudah menunjukkan pukul 07.10 WITA, terlihat teman-temanku datang berangsur-angsur yang masuk ke ruang kelasku sembari menanyakan kabar,
“Apa kabar fah? Gimana hari liburmu?” Tanya sahabatku Tara yang langsung mengambil posisi duduk di sampingku.
“Alhamdulillah baik, liburanku biasa saja, bagiku hari libur atau bukan hari libur, itu sama saja.  Aku tetap di rumah membantu orangtuaku, menurutku itu adalah sesuatu yang mengasyikan, menghabiskan waktu bersama Ibu di dapur dan membantu membersihkan rumah” jawabku.
“Ah kamu ini masa gak ada jalan-jalan toh” Tanya tara lagi tak percaya.
“Nah loh? Tenanan tar, aku loh di rumah terus, jalan cuman nyapein badan jadi malas.  Eh tapi saya jalan-jalan kok, nemenin Ibu ke pasar” gurauku.
“Uhhh dasar, capek deh ngomong sama kamu, eh btw kamu udah makan pagi belum? kita ke kantin yuk”
“hehe puasa aku bah!”
“eh iya maaf lupa, inikan hari senin sudah menjadi rutinitasmu puasa.  Yaudah aku ke kantin dulu”.  Tara bergegas pergi meninggalkan ruang kelas.
          Tak lama Bell tanda waktu pelajaran akan di mulai berbunyi, aku pun segara kembali memasukkan buku-buku yang ku keluarkan tadi dan pergi ke Lab. IPA.  Aku pun masuk dan tak lupa mengucapkan salam, kemudian guruku yang ternyata sudah berada lebih awal dari pada aku menjawab dengan ramah dan menyilahkanku masuk.
          Setelah semua anggota kelasku terkumpul Pak Sukro Hariadi guru IPAku membuka pembicaraan.  Hari ini ia tidak memberi materi maupun praktek, karena hari ini hari pertama masuk sekolah ia ingin merefresh otak kami sekaligus memberi motivasi kepada kami tentang pandangan kedepan untuk melanjutkan SMA.  Pak Sukro adalah guru yang sangat baik, ia adalah orang yang selalu memotivasi anak didiknya agar terus maju dan pantang menyerah, dia selalu mengajari anak didiknya dengan penuh kesabaran, dan ia adalah orang yang tidak pernah menyia-nyiakan waktu, sangat peduli dengan kemajuan bangsa, aku sangat menyukainya.
          Pak Sukro sudah dari tadi memberi masukkan kepada kami, aku dan teman-temanku mendengarkannya dengan tenang dan masih belum ada pandangan untuk lanjutan kedepannya ingin masuk SMA kemana, sampai akhirnya keluar kata UNGGULAN dari ucapan guruku. Hahh? Aku langsung melongo, dan lebih memerhatikan guruku lagi yang menjelaskan tentang SMAN 3 Unggulan Tengarong yang ternyata anaknya sekolah disana.  Kedengarannya sangat menarik, aku tiba-tiba langsung berniat untuk melanjutkan sekolah kesana, aku ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah yang berbeda dengan kakakku Rina.  Umurku dan dia hanya berbeda 2 tahun tapi hanya beda 1 tingkatan kelas.  Dari SD aku selalu di sekolahkan di tempat yang sama sampai SMP sehingga aku sangat berkegantungan dengannya.  Aku ingin mandiri sekarang dan tak mau berkegantungan lagi dengan kakakku.
          Teeet tett tet…! Bell itu membuat Pak Sukro mengakhiri pelajarannya yang diisi dengan banyak motivasi tadi, aku segera keluar ruang Lab. Dan memikirkan bagaiman caranya agar aku dapat masuk sekolah ke SMA Unggulan itu.
“Apakah aku bisa sekolah disana? Apakah orangtuaku mampu membiayaiku sekolah disana? Apakah aku pantas sekolah disana?” bermacam pertanyaan terombang-ambing di pikiranku.
          Aku duduk di kelas dan tiba-tiba datang Nunu kelas III B menghampiriku,
“Ulfah, kamu lanjut kemana nih setelah SMP?”
“gaktau nih nu, aku bingung. Aku pengen banget lanjut ke sekolah yang dibilang pak sukro tadi, Sekolah Unggulan, lebih tepatnya SMAN 3 Unggulan Tenggarong”
“Owhhh… ya ya ya, ehh kebetulan aku juga pengen lanjut kesana, gimana kalo kita sama-sama aja, katanya yuli dan silfitri teman sekelasku juga pengen lanjut kesana”
“beneran nu, ayo deh kalo gitu kita sama-sama daftar sekaligus sama-sama pergi kesananya”
“okee sip ntar deh aku kasih infonya lagi”.
          Pulang sekolah aku menunggu angkot di depan gerbang sekolah, aku bertemu Nunu dan dia memberikan selembar formulir, betapa senangnya aku, aku pun tersenyum gembira dan langsung berterimakasih kepada nunu, tapi mendadak senyumku pudar karena nunu masih bingung siapa yang akan mengantar berkasnya ke Tenggarong nanti.  Kami pun sepakat menanyakan kepada orangtua masing-masing dirumah ada yang bisa atau tidak mengantarkannya. Akupun segera mendapati angkot dan melambaikan tangan tanda menyetop.
          Setelah tiba dirumah aku pun lansung bertanya pada orang tua ku tentang niatku lanjut ke SMA Unggulan di Tenggarong, dan orangtuaku pun menyetujuinya walaupun dari raut mukanya masih terlihat ragu.  Setelah mereka menyetujuinya aku pun bertanya apakah mereka bisa mengantarkan berkas ku dan teman-temanku ke SMAN 3 Unggulan Tenggarong. Dan ternyata MANTAP, mereka tidak bisa mengantarkanya, aku pun segera mengirim pesan ke teman-temanku yang ingin melanjutkan ke sekolah yang sama dengan ku bahwa orang tuaku tidak bisa mengantarkan berkasnya, dan sebaliknya ternyata mereka membalas pesanku dan dengan jawaban yang sama bahwa orangtua mereka juga tidak bisa mengantarkan berkasnya.  Akhirnya kami kembali bersepakat untuk merundingkannya besok di sekolah.
          Hari berganti, akupun sudah berada di sekolah tepat jam seperti kemarin pertama masuk sekolah.  Tak lama nunu, yuli dan silfitri datang, kami pun segera merundingkan masalah kami.  10 menit kami berunding, tiba-tiba Pak Sukro datang menghampiri kami dan beliau menawarkan bahwa kepsek  ingin mengantarkan berkas ke Tenggarong.  Kami semua tercengang dan hampir tidak percaya.  Ternyata semua yang didasari dengan bersungguh-sungguh itu pasti ada saja jalannya.  Kami pun langsung menerima tawaran Pak Sukro dan berterimakasih kepada beliau.
          Tidak Terasa sudah 2 minggu setelah berkas itu dikumpul, seleksi berkas sudah keluar dan kami semua lulus, kemudian kami melihat apa-apa yang harus disiapkan nanti pada masa PSU.  Di kertas itu di tuliskan biaya PSU yang bernilai Rp.400.000,-.  Aku kaget dan bingung harus bagaimana lagi, akhirnya akupun memutuskan untuk menabung sendiri untuk mengumpulkan uang sebanyak itu, dan aku sangat sangat tidak ingin merepotkan kedua orangtuaku.  Uang saku yang diberikan kepadaku oleh orangtuaku tak pernah ku belanjakan selama 1 bulan dan Alhamdulillah uang yang diharapkan sudah terkumpul.  Masih ada waktu seminggu sebelum masa PSU, aku pun semakin bersemangat dan berjuang untuk masuk ke SMAN 3 Unggulan Tenggarong. 
          Selama aku tau SMAN 3 Unggulan Tenggarong aku terus berusaha mencari ilmu dengan bersungguh-sungguh untuk modalku masuk SMAN 3 Unggulan Tenggarong, aku bahkan mencari tempat dimana ada les b. arab karena aku mendengar bahwa SMAN 3 Unggulan Tenggarong juga mempelajari b. arab dan aku sama sekali tidak mengetahui b. arab karena disekolahku tidak mempelajari b, arab.  Pagi jam 7 aku berangkat sekolah setelah itu jam tambahan sekolah sampai Ba’da ashar, kemudian aku melanjutkan lagi sekolah di Madrasah Dinniyah kumpulan Madura untuk belajar agama disana terutama b. arabnya yang ku pelajari dengan sungguh-sungguh sekali.
          Matahari berada tepat di atas menunjukkan Tengahnya hari, tepat 3 hari sebelum PSU, aku, nunu, yuli, dan silfitri berdiskusi lagi mengenai transportasi yang akan di gunakan ke SMAN 3 Unggulan Tenggarong nanti.
“gimana kalo kita nyarter aja, tadi aku ketemu sama ibu TU bu prapti, nah anak dan teman anaknya ternyata juga mau masuk sekolah yang sama seperti kita, terus ibu nawarin mau gak, nyarter bareng jadi bayar ongkos transportasinya gak terlalu besar, ongkosnya sekitar 80 Rb kalo kita ikut nyarter, gimana? Kalian setuju gak?” Tanya temanku nunu.
“Iya kami setuju, gak’ ada pilihan lain lagikan selain itu?” jawab yuli dan silfitri.
“tapii??  Hm aku gak tega kalo harus minta uang sama orangtuaku, gimana dong? Hm tapi yaudah deh tega gak, tega harus minta karena aku gak mungkin ngumpulin uang saku sebanyak 80 rb dalam waktu 3 hari” jawabku.
“Okee jadi kita semua sepakat ya,nanti saya bilang ke Ibu praptinya deh”jawab nunu.
          Hari yang di tunggu-tunggupun tiba seminggu sebelum UN berlangsung kami mengikuti test di SMAN 3 Unggulan Tenggarong.  Kami pun sampai di sekolah yang di tuju,
“wah bagus sekali sekolah ini? Semoga ini benar-brenar bisa menjadi sekolahku amiin” responku melihat sekolah nan indah dan megah.  Aku dan teman-temanku segera turun dan ke resepsionis untuk mendaftar.  Aku mendapat kamar 23 sekamar dengan Yuli, Rizki anaknya Ibu prapti dan teman anaknya yaitu Annisa.  Sedangkan Nunu mendapat kamar 16 bersama dengan Silfitri, dan teman test dari marangkayu yaitu Novita dan Emil.  Kami semua istirahat dan segera menyimpuni barang-barang kami, tak terasa sudah malam, kami pun mengisi waktu malam dengan belajar dan pagi untuk menjalani test, begitu pula seterusnya selama seminggu test. 
          Test Kesmaptaan menurutku adalah test yang paling berat, aku harus berlari mengelilingi sekolah SMAN 3 Unggulan Tenggarong sebanyak-banyaknya.
“Ayo dek, lari dek. Ingat orangtua dirumah dek, kamu pengen orangtua kamu seneng kan? Ayo dek! Terus lari demi orang tua kamu”.  Suara teriakan anak OSIS SMAN 3 Unggulan Tenggarong membuatku yang tadinya tak bisa menjaga keseimbangan lagi terus berlari sambil memjamkan mata karena sudah merasa melayang.  Aku terus melangkahkan lariku sekuat tenagaku dan semampuku dan akhirnya peluit di bunyikan tanda berlari harus di berhentikan, Alhamdulillah aku hampir mengelilingi sekolah sebanyak 5 putaran.
          Setelah istirahat sebentar, test di lanjutkan lagi dengan pull up, push up, sit up, dan shuttle run atau lari angka 8.  Alhamdulillah semua ku jalani dengan lancar dan dengan jumlah score yang dapat di bilang cukup banyak, untuk push up aku adalah peserta perempuan yang push up terbanyak, sebanyak 50 kali dalam waktu semenit, setelah itu aku terasa tak bisa lagi berjalan karena semua energy ku sudah habis.  Akupun memutuskan untuk istirahat sebentar dan setelah energy mulai memulih setelah meminum air putih aku pun kembali ke asrama.  Aku langsung mandi dan segera tidur di asrama dengan waktu yang lumayan lama.  Ba’da Ashar aku segera membereskan semua barang-barangku persiapan pulang untuk besok.
          Pagi menjelang siang terlihat angkot kol handil berwarna putih yang di janjikan sudah menjemputku dan teman-temanku.  Sebenarnya aku sedikit sulit beradaptasi dengan kol handil karena baunya yang memabukkanku, tapi demi SMAN 3 aku harus bisa, karena yang bisa di sarter hanya tinggal itu dan mengingat biayanya juga yang tidak terlalu mahal seperti mobil yang kemarin, aku pun menyetujuinya.  Tidak perlu malu menaiki kendaraan itu, toh dengan apapun pulangnya sampai juga tetap ke tempat tujuan yang sama.  Aku di bantu dengan pak supir dan anak OSIS mengangkat barang-barangku ke dalam bagasi mobil.  Setelah itu aku dan teman-temanku kembali ke resepsionis untuk  bertanda tangan bukti tanda sudah pulang dan berterimakasih kepada OSIS.
          Mobil yang kami tumpangi mogok di perjalanan berkali-kali, sehingga perjalanan pulang kami sedikit terganggu, tapi Alhamdulillah kami semua sampai  di rumah dengan selamat.  Aku segera beristirahat setelah sampai dirumah, kemudian ba’da Ashar aku langsung membereskan rumah yang terlihat sangat sangat berantakan.
          Setelah 1 minggu aku menginjakkan kakiku di SMAN 3 Unggulan  Tenggarong, akhirnya hari ini aku menginjakkan kakiku lagi di SMPN 2 Samboja dan siap mengikuti UN.  UN berlangsung selama 4 hari. 2 minggu setelah UN, Hasil kelulusan Test SMAN 3 Unggulan Tenggarong pun keluar. Dan begitu senangnya aku ketika melihat  namaku “SITI NUR ULFAH” dari SMPN 2 Samboja tercantum di tabel kelulusan itu.  Tapi aku sangat sedih karena teman-temanku yang lain tidak lulus, akupun menguatkan mereka agar tetap semangat dan tidak putus asa karena masih banyak tentunya sekolah lain yang mau menerima mereka.
          Teman-temanku pun memberikan ucapan selamat kepadaku, dan guru-guruku pun juga memberikan ucapan selamat kepadaku. Aku sangat senang mereka semua bangga denganku.  Aku senang sekali karena apa yang sudah aku perjuangkan selama ini gak, sia-sia.  Aku hijrah mencari ilmu kadang sampai lupa dengan makan gak, sia-sia, waktuku yang seharusnya untuk istirahat tapi kugunakan untuk belajar sekarang tergantikan oleh kebahagiaan sekarang. Tak sia-sia doaku selama ini karena telah terjawab semuanya  oleh ALLAH SWT.  Akhirnya aku masuk ke sekolah Unggulan, impianku sejak SD.

“Ternyata bersungguh-sungguh itu tak jarang semuanya akan SUKSES, man jadda wa jadda”.  

Sabtu, 11 April 2015

Cerpen_MALAIKAT TANPA SAYAP

MALAIKAT TANPA SAYAP


“Allahuakbar Allahuakbar”, Terdengar suara adzan yang indah dan merdu dari samping rumah Annisa, ya ! panggilan Allah sudah datang, yang menarik Annisa untuk segera bangkit bergegas melaksanakan kewajibannya.  Setelah sholat Subuh ia pun belajar sekitar 15 menit dan setelah itu ia segera mandi.  Jam sudah menunjukkan pukul 06:00 pagi, Annisa yang ternyata dari tadi berada di dapur bersama ibunya telah selesai memasak.
Mereka pun segera menyiapkan makan, Piring dan gelas di tata rapi di lengser yang terbuat dari seng dan aluminium.  Annisa segera menumpahkan air putih ke masing-masing gelas yang berada di atas lengser, kemudian mengambil nasi dan lauk di tempat yang terpisah.  Begitulah keseharian Annisa, setiap hari ia membantu ibunya, pagi ia membantu ibunya masak didapur, sepulang sekolah dia menyapu rumah beserta halamannya dan malam adalah waktunya untuk istirahat.  Terkadang waktu malam di pakainya juga untuk bekerja membantu ibunya untuk mencuci pakaian karena dia tidak tega melihat ibunya bekerja sendiri.
“Annisa…?” panggil ibunya dengan nada sangat lembut
“Iya bu, ada apa”
“Annisa, lekas panggil ayah, kakakmu Melati dan Karim untuk makan pagi bersama ya” perintah ibunya.
“Oke ibu ku sayang”.
               Beberapa menit kemudian, mereka semua sudah berkumpul di dapur untuk makan bersama, cukup  sederhana cara mereka makan.  Mereka duduk membentuk lingkaran di lantai dengan alas dari selembar karpet yang terbuat dari rotan, terlihat sekali mereka masih sangat mebudayakan adat tradisional mereka.  Banyak tetangga mereka yang sangat salut dengan mereka karena di tengah era modern ini mereka masih membudayakan adat mereka dan tidak terpengaruh oleh budaya modern.  Mereka memang termasuk keluarga yang sangat mencintai Indonesia termasuk juga budayanya.
               Ayahnya yang tertua mendahului mengambil nasi, kemudian yang tertua di bawah ayahnya lagi, dan begitu seterusnya sesuai dengan adat mereka.  Mereka semua makan dengan tenang kecuali Annisa yang dari tadi tampak badmood dan sedang melamun, ternyata Annisa sedang memikirkan prestasinya “apa yang ku punya? Prestasi apa? Apa yang bisa buat orang tua aku bangga sama aku, aku sangat malu semua kakakku 22nya pintar-pintar dan cerdas, sering mendapatkan prestasi gemilang, sedangkan aku?? Menyandang 10 besar di kelas saja tidak pernah, aku harus bisa, aku harus bisa lebih dari mereka, aku tidak ingin membuat malu mereka !” lamunanya di dalam hatinya yang sedang menangis. 
“Adek…?? Kamu mikirin apa? Kamu gakpapa kan?, o yaa hari ini kakak ikut Olimpiade MIPA loh, doa in yah dek, oh ya doa in juga ya bu, yah, kak karim”  Tanya kakaknya sekaligus meminta doa ayah, ibu dan kakaknya.
“baik baik aja kok kak, tenang aja kak kami semua selalu doain kakak kok”.  Jawab Annisa dengan datar karena merasa iri melihat kakaknnya di puji-puji daritadi, ia  ingin sekali seperti kakaknya.
               Tak terasa sudah setengah jam mereka makan dan bercanda di dapur, Annisa pun segera menyebrang berangkat ke sekolah karena memang letak sekolahnya di depan rumah dan kakak-kakaknya segera berangkat juga  di antar oleh ayahnya ke sekolah.
“Bu, yah berangkat dulu yah Assalamu’alaikum” pamitku dan kakakku sembari mencium kedua tangan orangtuaku.
“wa,alaikum salam”
               Annisa dalam sekejap mata sudah sampai disekolah dan ia segara meletakkan tasnya di laci meja belajarnya, ia pun duduk dan tiba-tiba seorang guru tidak sengaja lewat depan kelas annisa dan melihatnya sedang melamun, guru BK  yang ternyata guru tingkat kelasnyapun, kelas VII menghampiri annisa. Annisapun kaget karena guru BK itu menepuk pundaknya.  Ia baru menyadari bahwa ia tadi sedang melamun, Pak BK pun segera bertanya mengapa Annisa melamun dan memasang raut muka yang sangat sedih, dan terlihat benih air mata yang sebentar lagi terjatuh dari bola mata annisa yang di hiasi bulu mata seindah bulu burung enggang.  Guru BK itu adalah guru matematika di kelasnya dan menurutnya guru itu sangat killer sehingga hal itu membuat annisa bercerita jujur kepada guru BK itu yang bernama Pak Arif.
“Jadi gini pak, saya ini punya masalah yang sangat  membuat saya memikirkannya terus-menerus. Saya sangat kesulitan belajar matematika pak, dan saya sangat malu pak.  Karena kakak saya pintar dan cerdas pak bahkan mereka sering mendapati juara di kelas mereka masing-masing.  Saya ingin seperti mereka pak, saya sudah berusaha sendiri pak untuk bisa seperti kakak-kakak saya, tapi hal itu tidak berhasil dan sepertinya saya sangat membutuhkan pendamping pak untuk belajar”jawab Annisa panjang lebar
“Jadi begitu permasalahannya tenang saja bapak akan membantumu nak! Asal kamu memiliki niat yang sangat kuat insyaAllah bapak akan serius membantumu”.  Jawab pak Arif dengan nada meyakinkan dan dengan mengelus kepala Annisa.
“Tapi saya tidak mempunyai uang untuk membayarnya pak, saya ini dari keluarga yang kurang mampu pak, terimakasih atas tawaran bapak” Jawab Annisa dengan nada sedih
“Bapak tidak meminta gaji nak, bapak ikhlas ingin membantumu, Bapak adalah seorang guru dan bapak harus membagikan ilmu bapak kepada yang membutuhkannya.  Sungguh bapak menjadi seorang guru tidak hanya untuk mendapatkan uang nak, tapi bapak menjadi seorang guru hanya ingin melihat generasi penerus bangsa ini menjadi generasi berkarakter dan sukses”
 Subhanallah, Annisa baru menyadari bahwa begitu baiknya Guru yang selama ini di anggapnya guru killer,  Ia sangat menyesali betapa bersalahnya dia telah menganggap pak Arif guru yang tidak baik.  Padahal semua hipotesisnya tentang itu adalah kebalikannya.  Pak Arif adalah guru yang sangat baik dan beliau adalah guru yang sangat bertanggung jawab, beliau adalah guru yang snagat menghargai waktu dan sangat peduli dengan generasi penerus bangsa.  Annisa pun segara berterimakasih dan menangis di depan guru itu, dia meminta maaf karena telah beranggapan buruk tentang pak gultom, dan dia langsung mencium tangan pak Arif.  Pak Arif yang melihat Annisa berlaku seperti itu sangat terkesan, beliau segera menasihati annisa dengan kata-kata bijak.  Setelah itu beliau kembali ke ruangannya untuk melanjutkan tugasnya.
Tak lama kemudian bel berbunyi tanda jam belajar akan segera dimulai, teman sebangkunyapun duduk disebelahnya dengan senyuman semangat pagi menjalani aktivitas sekolah, namanya Lia tepatnya Amalia Nur Hasanah. Lia adalah seorang anak yang pintar, ibu bapaknya juga pintar bahkan adik dan kakaknya juga.Annisa sangat ingin seperti Lia, ia ingin sekali membanggakan orangtuanya. 
“Assalamu’alaikum.  Pagi anak-anak,  Ketua kelas langsung pimpin do’a ya!” Pak Arif pun guru Matematika masuk untuk mengisi pelajaran.
“Wa’alaikum salam, siap pak!” jawab ketua kelas dengan gagah berani.
Usai berdo’a  Pak Arifpun memulai pelajaran matematikanya dengan semangat yang menggebu-gebu, bagaimana tidak? Ekspresinya terlihat sekali saat dia sedang mengajar.  Saat mereka sudah terlihat bosan dengan pelajarannya, tak lepas pak Arif memberi mereka gurauan agar suasana tidak menjadi hening dan ngantuk layaknya di kuburan.  Pak Arif sangat ceria hari ini, seperti ada fill yang berbeda di guru matematika ini.  Taklama Pak Arif menerangkan pelajarannya, ia pun mendatangi Annisa yang daritadi tampak memerhatikan pelajaran matematika dengan serius.  Begitu senang hati Pak Arif karena ia melihat kesungguhan Annisa yang pantang menyerah dalam berusaha untuk bisa. 
“Nak, pulang sekolah nanti bapak sudah bisa mengajarmu, bagaimana? Apakah kamu setuju?”
“Bener nih pak? Iya deh pak, siip saya sudah tidak sabar ingin mengalahakan nilai kakak-kakak saya, terimakasih pak”
Pak Arifpun kembali kedepan untuk memberikan soal kepada anak-anak, yaaa seperti biasa, mayoritas sekelas mengeluh walaupun sebagian tidak.  Itulah kebiasaan anak-anak.  Pak Arifpun segera member pesan kepada anak-anak agar mengerjakan apapun itu harus dengan ikhlas agar nantinya menjadi berkah.  Terlihat sekali ia sangat ingin anak-anak didiknya nanti menjadi penerus yang dapat dipercaya.  Anak-anakpun termasuk Annisa mengerjakan tugas dengan baik dan mengumpulkan kepada Pak Arif setelah selesai mengerjakannya.  Pak Arif tersenyum, setelah semua tugas sudah di kumpul.
“Semoga nilainya memuaskan ya anak-anak, bapak akhiri Assalamu’alaikum Wr.Wb”.  Pak Arif pun mengakhiri pelajarannya
“Wa’alaikum salam Wr.Wb”.  Jawab anak sekelas serempak dan semangat.
Tak terasa lamanya disekolah, bel tanda waktunya pulangpun berbunyi.  Annisa dan teman-temannyapun bergegas meninggalkan kelas.  Tetapi Annisa dan Temannya keluar dari kelas dengan tujuan berbeda, jika teman-temannya keluar dari kelas dengan tujuan untuk pulang ke rumah, beristirahat, makan siang, lain halnya dengan Annisa, ia pergi keluar kelas bergegas untuk mengambil air wudhu.  Setelah sholat ia pun segera mendatangi Pak Arif di ruangannya untuk menerima pelajaran tambahan matematika.  Pelajaranpun berjalan dengan lancar.  Pak Arif sangan senang karena ia merasa sudah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang guru, begitu juga dengan Annisa, ia sangat senang karena selain ilmu yang didapatnya dari Pak Arif ia juga bisa menambah keakrabannya dengan Pak Arif.  Pak Arif melajarinya dengan sabar sampai ia benar-benar bisa dan Annisa yang merasa bahwa Pak Arif benar-benar sabar melajarinya menjalani dengan pantang menyerah tanpa kenal lelah.
Suara azan ashar membuat mereka menghentikan kegiatan.  Annisa pun pulang dan sangat berterimakasih kepada Pak Arif, ia segera melangkahkan kakinya dan menyebrang jalan raya kemudian mengetuk pintu rumahnya.
“Kamu kemana saja?  Kok baru pulang jam segini”Tanya mama Annisa dengan nada sedikit marah.
“Maaf ma, sekarang Annisa mengikuti pelajaran tambahan matematika jadi Annisa pulang terlambat, Annisa ingin melihat mama bangga, Annisa ingin seperti Kak Melati yang selalu di puji mama karena selalu mendapat juara kelas.  Annisa juga ingin ma melihat mama memuji Annisa.  Annisa akan membuktikan bahwa Annisa bisa mendapat nilai bagus” jawab Annisa sambil tersedu-sedu.
“maafkan mama ya nak! Seharusnya mama tidak membuatmu iri dengan kakakmu, baiklah kalau begitu, buatlah mama senang nak! Terus berusaha untuk mengejar cita-citamu, mama yakin kamu bisa” jawab mamanya yang dari tadi ternyata sudah meneteskan air mata.
“Terimakasih ma, Annisa saying mama”
Annisa pun segera masuk ke kamar dan mengganti baju, usai ganti baju iapun mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci piring, dan mencuci baju kemudian langsung mandi.  Setelah waktu maghrib iabelajar untuk pelajaran besok sampai waktu sholat isya, Ba’da isya di isinya dengan menghibur dirinya dengan menonton atau membuat sesuatu yang unik sampai jam 10 malam lalu ia pun tidur.  Annisa memang anak yang terbilang rajin bahkan lebih rajin dari kakak-kakaknya.
Pagi menyambutnya lagi, seperti biasa Annisa melakukan rutinitas paginya setelah itu ia berangkat kesekolah.  Annisa selalu datang paling pagi  dan terkadang ia mengisi waktu kosongnya untuk membaca.  Sampai akhirnya teman-temannya datang baru ia menyudahi membacanya dan ikut berkumpul dengan teman-temannya yang dari kecil sudah bersahabat, yaitu Wulan, Mayang, Dayat, Tara, Wawan, dan Lia.  Mereka selalu menghabiskan waktu bersama di istirahat sekolah.  Terkadang belajar mereka bila di luar jam sekolah juga bersama.  Annisa terkadang merasa malu karena ia selalu mendapat peringkat terendah di banding dengan semua temannya, namun hal itu membuatnya lebih semangat dalam belajar.  Ia harus membuktikan bahwa ia bisa, itulah yang ada dalam pikiran Annisa.  Jam pelajaran telah usai, seperti biasa Annisa melakukan rutinitasnya seperti biasa, belajar, belajar, dan belajar begitu juga sampai hari seterusnya. 
Tak  terasa sudah 1  bulan lebih ia belajar dengan Pak Arif dan ia pun harus mengakhiri pelajaran tambahannya bersama Pak Arif karena sudah akan di adakan bimbel untuk persiapan UN nanti.  Pak Arif sedih tapi beliau juga sangat senang karena disisi lain ia melihat nilai Annisa yang mulai meningkat.  Annisa mengucapkan terimakasihnya kepada Pak Arif yang selama ini sudah mengajarinya dengan sabar dan tak putus asa. Ia menangis di hadapan Pak Arif karena tak ada guru yang sebaiknya yang mengajari dengan Sabar, ikhlas, tanpa di gaji.
“Ya Rahman, Ya rahim treimakasih engkau telah mengirimkan malaikat tanpa sayap kepadaku”.  Ucapnya dalam hati dengan tetesan berlinang air mata.  Annisa pun segera pulang ke rumah usai pelajaran sekolah selesai.  Besok adalah hari pertama bimbel disekolahnya, ia harus menyiapkan tenaga dan pikiran menghadapi hari esok.
Bimbel pertama sudah dimulai, Annisa pun berdo’a sebelum ia belajar agar ilmu yang didapatnya nanti berkah.  Annisa memerhatikan guru didepan dengan serius dan menanyakan apapun yang tidak di mengertinya.  Annisa sekarang mulai menonjol di dalam kelas karena aktif bertanya dan nilai matematikanya yang sekarang mulai meningkat.  Teman sekelasnya sangat kaget melihat peningkatannya yang begitu drastis, maklumlah dulu nilai matematika Annisa hanya dibawah 5 tapi sekarang nilainya selalu melebihi KKM.  Mulut-mulut yang dulunya mencemoohkan Annisa sekarang telah berganti dengan mulut-mulut manis yang memuji-muji kepintaran Annisa, ia sangat senang perjuangannya tak sia-sia.  Semua itu berkat Pak Arif yang telah mengajarinya dengan rela, tulus, ikhlas dan juga berkat Allah SWT, tanpa Allah apalah arti dari semua itutanpa Allah semua itu tidak akakn terjadi.
Bimbingan Belajar pertama Annisa berjalan dengan lancar,  Annisa yang dulunya bertanya dengan teman-temannya jika ada hal yang tidak di tahu sekarang berbalik, Teman-temannya sekarang selalu merubungi Annisa jika ada sesuatu hal pelajaran yang tidak ditahu. Entah kenapa tidak hanya mata pelajaran matematikanya saja yang hanya mendapat nilai tinggi, namun seiring dengan berjalannya waktu semua mata pelajaran didapati Annisa dengan nilai yang memuaskan.  Semua itu karena matematika, matematika dapat mengubah semuanya menjadi nyata, matematika itu tantangan, permainan, dan ibarat seperti menonton drama korea yang semakin di dalami semakin asik ceritanya.  Itulah matematika menurut Annisa dan Pak Arif.
Annisa menjalani hari-harinya seperti biasa, Ibunya sangat senang karena nilai Annisa meningkat.  Tetapi Annisa cukup kecewa dengan Ibunya, karena jerih payahnya itu hanya di respon singkat dan biasa saja.  Ibu Annisa memang tak pernah menyuruhnya belajar, bahkan masalah nilai tak pernah ditahunya, Annisa jadi merasa bahwa ia tak diperhatikan oleh orangtuanya tapi disisi lain ia sangat yakin bahwa ada cara lain yang dilakukan ibunya untuk memerhatikannya, ia yakin bahwa ibunya sangat menyayanginya.
Tak terasa bimbel telah berjalan selama 2 bulan, tinggal 1 bulan lagi kontrak bimbel akan habis dan Annisa akan menjalani UN, Pak Arif selalu menasihati Annisa jika bertemu, entah sepatah dua kata Pak Arif selalu menyelipkan sedikit motivasi untuknya.  Ia sangat bersyukur ada guru yang sebaik Pak Arif mengajar di sekolahnya, karena tanpa beliau ia tak mungkin mendapatkan peningkatan nilai yang sangat drastis.  Terkadang ia menangis jika mengingat dulu, karena teman-temannya dulu sangat meremehkannya, begitu juga dengan keluarganya.  Tak sedikit orang yang meremehkan kemampuannya.  Tetapi sekarang ia sudah tidak dapat diremehkan lagi.
“Terimakasih Ya Allah, engkau telah mengirimkan Pak Arif, guru yang sangat baik untuk menolongku, yang telah menyemangatiku untuk terus bangkit dan tak pernah putus asa, berilah beliau pahala tanpa batas karena ketulusannya Ya Allah”.  
Matahari di sore hari segera menyembunyikan sinar manisnya ke perut bumi, Annisa mengambil air wudhu dan segera melaksanakan sholat Maghrib bersama keluarganya, Annisa berdo,a agar UN nya nanti berjalan dengan lancar, begitu juga dengan seterusnya Annisa terus berdo’a agar hasil UN nya mendapatkan nilai yang memuaskan.  Malam itu ia terlihat sangat serius belajar, bagaimana tidak, ternyata besok adalah hari yang sangat di tunggu-tunggunya.  Besok adalah hari pertamanya menjalani Ujian Nasional.
“Bismillahirrohmanirrohim” ucap Annisa dalam hati,  pagi seolah mendukung Ujian Nasional pada hari ini, Annisa segera melangkahkan kakinya menuju sekolahnya, sesampainya disekolah ia mencari tempat duduknya yang ternyata telah di tata rapi sehari sebelum UN kemarin.
Dag,dig dug lembar soal dan jawaban dibagikan, jantung Annisapun berdegup kencang karena akan melawan Perang Dunia ke I, awalnya Annisa merasa takut, karena tidak bisa menjawab soal-soal yang ada di lembar soal itu, tapi setelah Annisa membaca soal pertama ia sangat senang karena ternyata soal itu terlihat mudah begitu pula seterusnya walaupun ada sebagian soal yang dapat dibilang sulit, tapi Annisa bersyukur karena dominan ia dapat mengerjakan soal lebih banyak daripada yang tak terjawab atau hanya menebak.  Ujian telah selesai, ia merasa satu bebannya telah hilang karena telah melewati satu tantangan, tinggal tiga tantangan lagi yang harus ia hadapi.
Sesampainya dirumah Annisa belajar lagi, tak peduli dengan ributnya suasana diluar rumah ia tetap belajar walau terkadang ia ingin sekali keluar jalan bersama teman-temannya.
“Aku harus bisa, pokoknya aku gak, akan keluar rumah sebelum ujian selesai”ucap Annisa yakin.  Tak terasa sudah malam, Annisa pun bergegas untuk tidur agar besok ia tak terlambat datang kesekolah dan ada waktu senggang untuk mengulang lagi yang sudah dipelajarinya.  Setelah ia tidur ia disusul kakaknya Rina yang tidur di sebelahnya, Rina melihat sebuah buku yang terletak di samping bantal adiknya dan segera memindahkannya ke meja.  Betapa bahagianya Rina melihat sebuah buku disamping bantal adiknya, karena jarang sekali Annisa seperti ini.  Rina pun kemudian tidur, tetapi sebelum tidur ia mendo’akan agar Ujian adiknya dapat berjalan dengan lancar.
Pagi menyapa Perang Dunia ke II Annisa hari ini, Annisa bergegas mempersiapkan untuk hari ini, begitu pula dengan seterusnya ia selalu mempersiapkannya dengan baik, Selama 4 hari berturut-turut ia bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan sholat tahajjud, ia memang sangat bersungguh-sungguh untuk lulus dengan nilai yang memuaskan, ia akan buktikan kepada dunia bahwa ia bisa, tak seperti apa yang dikatakan oleh kebanyakan orang sekitarnya dulu bahwa ia tak bisa apa-apa, ia tak akan sukses.  Betapa sedihnya ia ketika mengingat masa lalu masa lalu yang menyayat hatinya.
Ujian Nasional telah terlewati sebulan, tinggal menunggu waktunya saja untuk melihat hasilnya,  InsyaAllah hasil ujian akan di lihatkan besok di sekolah, tepat jam 9 pagi.  Annisa hanya bisa berdo’a semoga apa yang diharapkannya tercapai, perjuangan beelajar dengan malaikat tanpa sayapnya tak sia-sia, semoga hasilnya nanti dapat membanggakan kedua orangtuanya, keluarga, teman-teman, serta Pak Arif yang tak kenal lelah mengajarinya.  Di ambilnya selembar daun di halaman rumahnya yang indah itu, kemudian di robek-robeknya hingga menjadi bagian-bagian yang paling kecil karena ia bosan dan takut menghadapi hari esok, namun apapun yang terjadi ia harus juga melewati hari esok.
Petang hari tak terasa lagi datang, Ia segera bergegas masuk ke rumah dengan perasaan yang masih tidak enak, mulutnya hanya bisa komat-kamit membaca do’a untuk hasil UN esok.  Ia segera mengambil sapu untuk menyapu kamarnya yang ternyata masih kotor, setelah itu ia beristirahat dengan tenang.  Waktu sholat ia sholat, waktu makan ia makan, dan waktu belajar masih dijalankannya dengan baik walau semua beban telah hilang, ia selalu mengingat kata-kata Pak Arif bahwa waktu adalah uang, untuk itu ia selalu memanfaatkan waktu senggangnya sebaik-baiknya.
Tok..tok…tok
“Nisa? Ayo bangun nak, sudah pagi” panggil ibunya membangunkan Annisa
“Iya bu,”.  Begitulah Annisa karena hari libur, ia sekali-kali tidur setelah melaksanakan sholat Subuh, dan terbangun jam 8 pagi.  Annisa segera mandi, dan menyiapkan dirinya untuk menyebrang ke seberang jalan raya didepan rumahnya, sekolah telah menantinya, dengan pakaian putih biru berdasi yang rapi dan licin, sepatu tali yang terikat rapi, dan jilbab putih yang menutupi auratnya menjadikan dirinya terlihat siap untuk melangkahkan kainya melihat hasil UN.
“Permisi,permisi”.  Annisa ricuh ingin melihat papan pengumuman.
“apaa? Hah? Aku?”.  Annisa tercengang dan mungkin bisa saja jatuh pingsan disitu karena merasakan kebahagiaan yg tiada tara.
“aku di urutan kedua? Subhanallah, Allahuakbar.  Sungguh adilnya engkau Ya Allah, Alhamdulillah. Terimakasih juga pak Arif yang telah mengajariku sehingga aku berada di urutan kedua dengan nilai yang memuaskan ini”.  Annisa sangat mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT untuknya.  Terlihat beberapa teman-temannya mengucapkan selamat kepadanya dan mendo’akan untuk kedepannya agar lebih baik lagi.
Siang itu setelah hasil Ujian di paparkan di papan pengumuman, ia mendatangi Pak Arif untuk berterimakasih kepada beliau, Annisa sangat senang karena semua nasehat yang diberikan beliau di jalankan dengan baik membuahkan hasil.  Di ruang guru terlihat kepala yang berambut tebal berwarna hitam legam dari kaca jendela, tak salah lagi bahwa itu adalah Pak Arif yang sedang bercakap-cakap dengan guru yang lain, iapun segera masuk ke dalam ruang guru mendatangi Pak Arif.  Belum ia tepat di depan Pak Arif ia sudah disambut oleh guru-guru lain dengan ucapan selamat, guru sangat bangga kepada Annisa.
“Selamat ya nak,” ucap seorang guru yang berdiri tepat dibelakang pintu sambil menyalaminya.
“Sama-sama bu Terimakasih !” jawab Annisa sembari menyambut tangan guru itu.
“Permisi, boleh saya bertemu dengan Pak Arif sebentar!”.  Annisapun segera menemui Pak Arif.

“Pak, saya sangat berterimakasih pada bapak, berkat Tuhan dan bapak saya bisa meraih nilai yang memuaskan dan menduduki peringkat kedua, engkau malaikat tanpa sayap saya pak, terimakasih pak”.  Ketulusannya sangat terlihat jelas berterimakasih pada pak Arif karena berkat beliau Annisa merasa bisa dibanggakan dan patut dibanggakan.

Sabtu, 14 Maret 2015

Lirik lagu Nasi Bekepor

NASI BEKEPOR

Ganganlah labu tontong bengkela…
Sangai, Cabai, Sarai pedas rasanya…
Jerok tegaron pucuk sawinya…
Pirilah asam pedas rasanya…

Gede-gede sida mbo dengan busu…
Aseklah makan mandi tahu-tahu…
Apalagi nasi-nasi beras baru…
Bentu halalu mandi di imbu…

Ganganlah terong bebawang hutan…
Tontonglah koto si genceh ruan…
Panggang jelawat banyak lemaknya…
Samballah kacang nyaman rasanya…

Gede-gede sida mbo dengan  busu…
Aseklah makan mandi tahu-tahu…
Apalagi nasi-nasi beras baru…
Bentu halalu mandi di imbu…
Itu makanan etam di kutai…

Nyaman di makan sesudah bejohor…
Amunlah adat etam di kutai…
Lalu berega terus belonjor…
Gede-gede sida mbo dengan busu…
Aseklah makan mandi tahu-tahu…

Apalagi nasi-nasi beras baru…

Bentu halalu mandi di imbu…
Bentu halalu mandi di imbu...

ARTIKEL KETERGANTUNGAN PENDIDIKAN ISLAM TERHADAP MASA DEPAN

Ketergantungan Pendidikan Islam terhadap masa depan

          Sebagai orang yang menganut ajaran agama Islam hendaknya kita mengetahui sejauh mana pendidikan Islam itu sendiri. Banyak orang yang mengaku beragama Islam akan tetapi pengetahuan tentang pendidikan Islam sangat minim yang berakibat tindakan dan tingkah lakunya tidak layak disebut sebagai orang Islam.  Islam mereka hanya dijadikan istilah ISLAM KTP yang berperan sebagai identitas diri.  Benar kan? Buktinya sangat terlihat jelas di sekitar anda   Benar kan? Buktinya sudah sangat terlihat jelas di sekitar anda, banyak tindakan-tindakan dan tingkah laku yang di lakukan masyarakat tidak dapat disebut sebagai orang islam.
          Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya.
Sungguh Iman dan Ilmu mempunyai saling keterkaitan yang tak dapat terpisahkan, beriman juga harus berilmu, demikian kebalikannya berilmu juga harus beriman.
          Terkandung dalam (QS. Al Mujadilah (58) : 11) yang memiliki arti . Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
           Sedemikian pentingnya ilmu, maka tidak heran orang-orang yang berilmu mendapat posisi yang tinggi baik di sisi Allah maupun manusia. Bahkan syaithan kewalahan terhadap orang muslim yang berilmu, karena dengan ilmunya, ia tidak mudah terpedaya oleh tipu muslihat syaithan.
          Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya. Sungguh Iman dan Ilmu mempunyai saling keterkaitan yang tak dapat terpisahkan, beriman juga harus berilmu, demikian kebalikannya berilmu juga harus beriman.          Terkandung dalam (QS. Al Mujadilah (58) : 11) yang memiliki arti . Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.           Sedemikian pentingnya ilmu, maka tidak heran orang-orang yang berilmu mendapat posisi yang tinggi baik di sisi Allah maupun manusia. Bahkan syaithan kewalahan terhadap orang muslim yang berilmu, karena dengan ilmunya, ia tidak mudah terpedaya oleh tipu muslihat syaithan.Muadz bin Jabal ra. berkata: “Andaikata orang yang beakal itu mempunyai dosa pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya dia cenderung masih bisa selamat dari dosa tersebut namun sebaliknya, andaikata orang bodoh itu mempunyai kebaikan dan kebajikan pada pagi dan sore hari sebanyak bilangan pasir, maka akhirnya ia cenderung tidak bisa mempertahankannya sekalipun hanya seberat biji sawi.”Ada yang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Ia menjawab, “Sesungguhnya jika orang berakal itu tergelincir, maka ia segera menyadarinya dengan cara bertaubat, dan menggunakan akal yang dianugerahkan kepadanya. Tetapi orang bodoh itu ibarat orang yang membangun dan langsung merobohkannya karena kebodohannya ia terlalu mudah melakukan apa yang bisa merusak amal shalihnya.”Kebodohan adalah salah satu faktor yang menghalangi masuknya cahaya Islam. Oleh karena itu, manusia butuh terapi agar menjadi makhluk yang mulia dan dimuliakan oleh Allah SWT. Kemuliaan manusia terletak pada akal yang dianugerahi Allah. Akal ini digunakan untuk mendidik dirinya sehingga memiliki ilmu untuk mengenal penciptanya dan beribadah kepada-Nya dengan benar. Itulah sebabnya Rasulullah SAW menggunakan metode pendidikan untuk memperbaiki manusia, karena dengan pendidikanlah manusia memiliki ilmu yang benar. Dengan demikian, ia terhindar dari ketergelinciran pada maksiat, kelemahan, kemiskinan dan terpecah belah.Pentingnya Pendidikan IslamPendidikanmerupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Tak heran bila kini pemerintah mewajibkan program belajar 9 tahun agar masyarakat menjadi pandai dan beradab. Pendidikan juga merupakan metode pendekatan yang sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki fase tahapan dalam pertumbuhan.
Pendidikan Islam memiliki 3 (tiga) tahapan kegiatan, yaitu: tilawah (membacakan ayat Allah), tazkiyah (mensucikan jiwa) dan ta’limul kitab wa sunnah (mengajarkan al kitab dan al hikmah). Pendidikan dapat merubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik disebabkan pendidikan mempunyai kelebihan. Pendidikan mempunyai ciri pembentukan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh, pemeliharaan apa yang telah dipelajarinya, pengembangan atas ilmu yang diperolehnya dan agar tetap pada rel syariah. Hasil dari pendidikan Islam akan membentuk jiwa yang tenang, akal yang cerdas dan fisik yang kuat serta banyak beramal.
Terkandung dalam  (QS. Ali Imran (3) : 103) Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Pendidikan Islam berpadu dalam pendidikan ruhiyah, fikriyah (pemahaman/pemikiran) dan amaliyah (aktivitas). Nilai Islam ditanamkan dalam individu membutuhkan tahpan-tahapan selanjutnya dikembangkan kepada pemberdayaan di segala sektor kehidupan manusia. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan kepada pengaktualan potensi dengan memasuki berbagai bidang kehidupan.Pendidikan yang diajarkan Allah SWT melalui Rasul-Nya bersumber kepada Al Qur’an sebagai rujukan dan pendekatan agar dengan tarbiyah akan membentuk masyarakat yang sadar dan menjadikan Allah sebagai Ilah saja. Kehidupan mereka akan selamat di dunia dan akhirat. Hasil ilmu yang diperolehnya adalah kenikmatan yang besar, yaitu berupa pengetahuan, harga diri, kekuatan dan persatuan. Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah agar manusia memiliki gambaran tentang Islam yang jelas, utuh dan menyeluruh. Interaksi di dalam diri ini memberi pengaruh kepada penampilan, sikap, tingkah laku dan amalnya sehingga menghasilkan akhlaq yang baik. Akhlaq ini perlu dan harus dilatih melalui latihan membaca dan mengkaji Al Qur’an, sholat malam, shoum (puasa) sunnah, berhubungan kepada keluarga dan masyarakat. Semakin sering ia melakukan latihan, maka semakin banyak amalnya dan semakin mudah ia melakukan kebajikan. Selain itu latihan akan menghantarkan dirinya memiliki kebiasaan yang akhirnya menjadi gaya hidup sehari-hari.Kesinambungan dalam Pendidikan IslamPendidikan Islam dalam bahasa Arab disebut tarbiyah Islamiyah merupakan hak dan kewajiban dalam setiap insan yang ingin menyelamatkan dirinya di dunia dan akhirat. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai akhir hayat.” Maka menuntut ilmu untuk mendidik diri memahami Islam tidak ada istilah berhenti, semakin banyak ilmu yang kita peroleh maka kita bertanggung jawab untuk meneruskan kepada orang lain untuk mendapatkan kenikmatan berilmu, disinilah letak kesinambungan. Selain merupakan kewajiban, kegiatan dididik dan mendidik adalah suatu usaha agar dapat memiliki ma’dzirah (alasan) untuk berlepas diri bila kelak diminta pertanggungjawaban di sisi Allah SWT yakni telah dilakukan usaha optimal untuk memperbaiki diri dan mengajak orang lain pada kebenaran sesuai manhaj yang diajarkan Rasulullah SAW.
Untuk menghasilkan Pendidikan Islam yang berkesinambungan maka dibutuhkan beberapa sarana, baik yang mendidik maupun yang dididik, yaitu:1. IstiqomahQS. Hud (11) : 112,Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. QS. Al Kahfi (18) : 28Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.Setiap kita harus istiqomah terus belajar dan menggali ilmu Allah, tak ada kata tua dalam belajar,karena mencari ilmu tak pandang usia.2. Disiplin dalam tanggung jawabDalam belajar tentu kita membutuhkan waktu untuk kegiatan tersebut. sekiranya salah satu dari kita tidak hadir, maka akan mengganggu proses belajar. Apabila kita sering bolos sekolah, apakah kita akan mendapatkan ilmu yang maksimal. Kita akan tertinggal dengan teman-teman kita, demikian pula dengan guru, apabila ia sering membolos tentu anak didiknya tidak akan maju karena pelajaran tidak bertambah. Tepat waktu datang ke sekolah juga termasuk tindakan disiplin.3. Menyuruh memainkan peran dalam pendidikanSetiap kita dituntut untuk memerankan diri sebagai seorang guru pada saat-saat tertentu, memerankan fungsi mengayomi, saat yang lainnya berperan sebagai teman. Demikiannya semua peran digunakan untuk memaksimalkan kegiatan pendidikan.Mulailah terapkan kajian-kajian diatas tersebut, agar istilah ISLAM di KTP benar-benar terterapkan, benar-benar di gunakan sebagaimana fungsinya dengan cara mengenal pendidikan Agama Islam lebih mendalam lagi kemudian mengimbanginya dengan ilmu dan iman agar keterkaitan antara agama dan ilmu tidak timpang.  Jika semuanya seimbang, kita juga yang merasakan kenikmatannya bukan? Dengan agama dan ilmu yang seimbang hidup kita akan menjadi tenang, tentram, baldatun, tayyibun, warrobbun, ghoffur.  Seperti kata pepatah bahwa islam itu indah. Belilah masa depan anda dengan ilmu.  Dan bekerjalah dalam perusahaan yang bernama “belajar” agar anda mendapat gaji berupa ilmu yang melimpah.

Semoga bermanfaat  ^_^

Sabtu, 08 November 2014

ALUR MEMBUAT CERPEN BESERTA NASKAH ASLINYA



            Nah kembali lagi bersama saya sobat, kali ini saya memosting alur cerpen lagi nih dengan judul yang tentunya berbeda dari postingan sebelumnya, judulnya bisa dilihat sendiri aja nanti di bawah.  Gimana? kalian udah ada yang tersentuh belum hatinya setelah membaca postingan cerpen kemarin.  Mudah kan cara membuatnya????.  Untuk memudahkan kalian dalam membuat cerpen apalagi bagi pemula yang sama sekali belum pernah membuat cerpen sebelumnya, sebaiknya membuat cerpen dengan berdasarkan fakta yang konkrit aja deh! biar kalian bisa mendalami dan memudahkan saat menulis cerpen.  Emosional yang tinggi juga dibutuhkan dalam membuat cerpen.  Jadi, ya gak, harus punya pengalaman doang tok' modal embuat cerpen yang sempurna tapi kita juga harus menjiwai dalam menulis cerpen, dan usahakan membuatnya pada saat mood kalian bagus hehe..
            MENYARANKAN aja kok. Nah sekarang kalian lihat deh new posting saya dibawah ini, mungkin dengan melihat alur atau pun cerpen yang saya posting saat ini akan menarik kalian untuk berinisiatif membuat cerpen.

Sungguh Kesulitan Berada dalam Kemudahan


Pengenalan masalah : Usai pelajaran mtk berlangsung, ku tarik tasku dari laci mejaku, segera aku dan teman-temanku berlarian pergi menuju lab. B.inggris.  Begitulah sekolahku lab, b.inggris bisa saja di jadikan tempat untuk belajar agama islam.  Ku lepas sepatuku dan masuk sembari engucapkan salam. setelah itu aku duduk bersama deretan teman-teman akhwatku.  Tak lama terdengar suara ketua kelas member aba-aba berdo,a sebelum pelajaran berlangsung.
Muncul masalah        : Pak mu,in pun guru agama ku memulainya dengan salam kemudian memberitahu materi  apa yang akan dibahas pada pertemuan kali ini.  Aku hanya mendengarkannya tanpa mencerna kata-katanya, sembari ku senderkan kepalaku pada dinding berwarna cream yang mewarnai seluruh ruangan berhiaskan Asmaul husna itu.  Tak lama Saat terdengar lantunan ayat yang dibacanya hatiku langsung tersentuh dan bagaimana tidak yang di bacakannya dengan suara merdu itu adalah surah al-insyirah, yang di salah satu ayat itu ada ayat yang mempunyai arti sesungguhnya kesulitan ada dalam kemudahan.akupun langsung teringat dengan masalah keluargaku.  Segera Aku mendengarkan penjelasan lebih mendalam mengenai makna dari ayat tersebut.
Masalah memuncak  : Bell tanda smua mata pelajaran telah berakhir, aku pun segera pulang ke rumah mengendarai sepeda motor bersama dengan kakakku Rina yang satu sekolah denganku.  Setelah sampai rumah akupun langsung masuk kamar.  Tak lama terdengar suara ketukan pintu kamarku dan ternyata setelah ku buka adalah ibuku yang memanggilku dan kakak ku untuk berkumpul bersama. Ayahku menjelaskan tentang bagaimana jika benar-benar rumah yang ku tinggali bersama ortu dan kakak-kakaku ini di sita, apakah siap jika tinggal di rumah kakekku yang rumahnya dapat dibilang kurang memadai.  Masalah keluargaku adalah hanya karena warisan, dulu nenekku mewasiatkan tanah dan rumah yang ku tinggali bersama kelurgaku ini kepada ayahku tapi keluarga dari pihak lain ternyata ada yang tidak suka dan menggugat rumah dan tanah yang di wasiatkan kepada ayahku. Kami semua siap jika rumah itu benar-benar disita untuk itnggl d tmpat kakek.  Setelah selesai aku dan kakakku kembali ke kamar.
Klimaks                      : Aku dan Kakakku langsung memasang wajah cemberut ke kamar, tetapi setelah teringat potongan ayat al-insyiroh aku langsung berusaha untuk tersenyum, tak lama kakakku berkomentar dan sedikit marah dengan masalah keluarga ini tapi aku berusaha untuk menasihatinya agar dia tidak mengeluh dengan masalah yang ada ini, karena allah gak akan nguji kita di luar btas kemampuan kita.  Aku bersama keluargaku makan bersama dan ibuku terpancing emosi karena ayahku bilang bahwa tempat usaha ayahku di pagar oleh pamanku sendiri.  Ibuku marah-marah dan aku berusaha untuk terus meredakan amarahnya.  Tapi anehnya wajah Ayahku selalu tersenyum di sela masalah-masalah yang di  milikinya itu, aku sangat iri dengan ayahku yang selalu tersenyum di saat senang atau sedih.  Aku sangat bangga dengan ayahku.  Tidak hanya menutup usaha ayahku saja pamanku juga mengajak ayahku untuk ke pengadilan, hasil kebun ayahku juga diambil. Tetapi ayahku tetap hanya diam, terkadang ada tetangga yang bilang bahwa ayahku terlewat sabar, katanya ayahku seperti di injak-injak derajatnya oleh pamanku.  Tapi ayahku selalu saja tersenyum.
Masalah mereda        : Ayahku sudah lama tak merespon masalah itu. Usaha ayahku pun benar-benar di tutup rapat sekarang hanya ada satu harapan utuk mencari nafkah yaitu warung kecil-kecilan Ibuku.  Akhirnya ayahku pun memutuskan untuk Utang di Bank untuk memperbarui usaha ayahku dulu yaitu peternak  ayam.  Di samping usaha, ayahku selalu berdoa. Aku sangat bangga memiliki Ayah sepertinya.  Siang hari itu sangat panas, terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah ku yang tak asing lagi ku dengar suara itu, dan ternyata hipotesisku benar itu adalah pamanku .  Terdengar salam yang di ulangi beberapa kali, aku pun segera membuka pintu dan melontarkan senyuman seikhlas mungkin kepada pamanku.  Ku suguhi paman ku dengan secangkir teh dan sedikit kue kering.  Aku pun memanggil Ayahku.  Setelah beberapa lama ayahku duduk bersama pamanku, aku pun keluar  dan Subhanallah begitu senang nya aku mendengar mereka sudah bermaafan, ternyata semua ayat Allah itu benar seperti potongan ayat surah al-insyiroh itu sesugguhnya kesulitan ada dalam kemudahan.
Selesai                         : Kukuruyukkk.. ayam brkokok menyambut pagi yang indah dan aku terbangun melaksanakan sholat subuh berjama’ah dengn keluargaku, setelah itu ayah ku memberi kejutan kepada kami semua  ayah ku akan mengajak kami sekeluarga jalan-jalan bersama dengan paman’’ ku seluruh keluarga besarku.  Rencanya kami akan jalan-jalanke pantai sambil membakar ayam dan ikan sekaligus membaca do’a selamat di sana sebagai wujud syukur dari perdamaian keluarga besar ayahku.





Nah ini cerpen aslinya.  Silahkan duduk manis dan dibaca ya, 

Sungguh Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
          Usai pelajaran matematika berlangsung, kutarik tas dari laci mejaku, segera aku dan teman-temanku berlari menuju Lab B.inggris.  Begitulah sekolahku Lab B.Inggris bisa saja dijadikan tempat untuk belajar Agama Islam karena didalam ruangan itu sangat sejuk dan banyak hiasan berbau islam.
“Eh,  Lia, tunggu aku dong”
“Iya cepetan, udah ada gurunya didalam Lab” jawab Lia.  Ku lepas sepatuku dan segera aku masuk sembari mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumusalam ayo cepet masuk, pelajaran sudah mau dimulai” jawab guruku.  Akupun segera duduk di sebelah temanku Lia. Tak lama terdengar suara ketua kelas memberi aba-aba berdoa sebelum pelajaran berlangsung.
“Selesai”. Ucap ketua kelasku mengakhiri do’a.
          Pak Mu’in,  guru agamaku membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan di  jawab dengan semangat oleh teman-teman sekelasku kecuali aku yang pada saat itu kurang enak badan, setelah itu bapak memberi tahu terlebih dahulu materi apa yang akan di bahas pada pertemuan kali ini.  Materi yang di bahas adalah tentang makna dari surah Al-Insyirah.  Awalnya aku hanya mendengar apa yang di jelaskan olehnya tanpa mencerna kata-katanya, ku senderkan kepalaku di dinding bercat putih yang mewarnai seluruh tembok berhiaskan As-maul Husna di Lab tersebut, sambil aku bershalawat Fatih untuk menenangkan pikiranku.
          Tak lama terdengar lantunan ayat yang dibaca guruku,
“Subhanallah” responku spontan.  Ingin rasanya air mataku menetes, hatiku langsung tersentuh mendengar tilawah surah Al-insyirah yang dibacakan oleh pak Mu’in  yang di salah satu ayatnya memiliki makna “sesungguhnya didalam kesulitan ada kemudahan”.  Akupun langsung teringat dengan masalah keluargaku.  Segera Aku mendengarkan penjelasan lebih mendalam mengenai makna dari ayat tersebut.
Tak terasa, pelajaran berakhir. Usai pelajaran berlangsung ku salami guruku dan berterimakasih kepadanya karena telah menyadarkanku bahwa setiap masalah pastilah ada jalan keluarnya, kemudian aku bergegas untuk pulang dengan ingatan yang terus memikirkan makna dari potongan ayat surah Al-Insyirah itu, yang akan membantuku terus bersabar dan tersenyum menghadapi cobaan.
          Bell tanda semua mata pelajaran telah berakhir berbunyi, segera aku ke luar gerbang menemui kakakku yang ternyata sudah menungguku daritadi.
“Kakak aja yah yang bawa motornya adek lagi gak, enak badan nih” suruhku
“Huftt, kamu ini dek, yaudah deh sini kuncinya biar kakak yang bawa, cepet sembuh yah adek pesek hehe”
“Ih kakak jahat, adekmu ini kan mancung kak, tapi ke dalam, eh tapi gak papa kan pesek itu manis kak, makasih yah udah di bilang manis kak” jawabku kepedean, aku pun segera pulang ke rumah mengendarai sepeda motor bersama dengan kakakku Rina yang satu sekolah denganku.  Setelah sampai rumah akupun langsung masuk dan salim sekaligus melontarkan senyuman kepada orangtuaku, kemudian pergi ke kamar.
Tak lama terdengar suara ketukan dari balik pintu kamarku,
“Ulfah, Rina kalian di dalam?” yang ternyata setelah ku buka adalah ibuku yang memanggil aku dan kakak ku untuk berkumpul bersama di ruang keluarga.  Setelah semua berkumpul, Ayahku mulai menjelaskan,
“Jadi tujuan Ayah mengumpulkan kalian disini untuk menanyakan apakah kalian siap kita pindah ke rumah kakek yang rumahnya dibilang kurang memadai jika rumah ini benar-benar di gugat?”.   Masalah keluargaku adalah hanya karena warisan, dulu nenekku mewariskan tanah dan rumah yang ku tinggali bersama kelurgaku ini kepada ayahku sebagai rasa terimakasihnya  karena  telah merawatnya sampai ia meninggal, tapi keluarga dari pihak lain ternyata ada yang tidak suka dan menggugat rumah dan tanah yang di wasiatkan kepada ayahku.
“Kami semua siap kok yah” jawabku dan kakakku Rina.  Setelah selesai berdiskusi aku dan kakakku kembali ke kamar.
          Aku dan kakakku langsung memasang wajah cemberut masuk ke kamar, tetapi setelah teringat potongan ayat surah Al-insyiroh yang ku pelajari tadi disekolah aku langsung berusaha untuk tersenyum, tak lama kakakku berkomentar dan sedikit marah dengan masalah keluarga ini tapi aku berusaha untuk menasihatinya agar dia tidak mengeluh dengan masalah yang ada ini,
”Udahlah kak, nggak usah ngeluh kita lagi di uji bukan disakiti, Allah gak akan nguji kita di luar batas kemampuan kita kok, lagipula ngeluh itu nggak ada gunanya kan? yang ada malah buat capek” .
“Hm.. iya juga sih dek, maksih yah udah ngingetin kakak”.
Tak terasa sudah malam, terdengar suara Ibuku
“makan malam sudah siap, ayo kita makan”
Setelah sholat maghrib aku bersama keluargaku makan bersama dan tiba-tiba Ibuku terpancing emosi karena ayahku bilang bahwa tempat usaha ayahku di pagar oleh pamanku sendiri.  Aku berusaha untuk meredakan amarahnya.
“Udah bu, sabar! Allah sayang sama kita makanya Allah giniin kita, harusnya kita bersyukur bu, karena Allah lagi menunjukkan kasih sayangnya kepada kita, Ibu ingat deh makna dari surah Al-Insyirah ayat 5-6 Allah bilang di ayat ke 5 bahwa bersama Kesulitan ada kemudahan, dan Allah menegaskan lagi di ayat ke 6 dengan arti yang sama itu berarti memang benar kalo dibalik kesulitan ada kemudahan, iya kan bu?”
“Astaghfirullah, iya nak kamu benar, tidak seharusnya Ibu mengeluh” jawab ibuku yang terus mengucap istighfar.
Wajah Ayahku masih sama, tetap selalu tersenyum di sela masalah-masalah yang di  milikinya itu, aku sangat iri dengan ayahku yang selalu tersenyum di saat senang atau sedih, aku sangat bangga dengan ayahku.  Tidak hanya menutup usaha ayahku saja, pamanku juga mengajak ayahku untuk ke pengadilan, hasil kebun ayahku yang di tanamnya dengan susah payah juga diambil, tetapi ayahku tetap hanya diam, Ayahku tetap tersenyum menghadapi semua cobaannya. 
“Subhanallah”ucapku dalam hati, terkadang ada tetangga yang bilang bahwa ayahku terlewat sabar, katanya ayahku seperti di injak-injak derajatnya oleh pamanku.  Tapi ayahku selalu saja tersenyum saat di katakana seperti itu dan selalu menjawabnya dengan kata,
 “gak,papa sabar aja, harta bisa di cari kok, gak, perlu di perebutkan”.
          Ayahku sudah lama tak merespon masalah itu, usaha ayahku pun benar-benar di tutup rapat sekarang, hanya ada satu harapan utuk mencari nafkah yaitu warung kecil-kecilan di samping rumahku yang untungnya tidak terlalu besar. Aku sedang berkumpul bersama keluargaku.  Ayahku pun membuka pembicaraan,
“Jika hanya begini-begini saja usaha yang ada, Ayah yakin keluarga kita tidak akan hidup karena pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, jadi bagaimana jika Ayah utang di Bank untuk memperbarui usaha ayah dulu sebagai peternak  ayam?”.
“Iya yah, sepertinya itu lebih baik”  jawab kakakku Yasir dan Ibuku.  Di samping usaha, ayahku juga selalu berdoa untuk di beri kekuatan dalam menjalani cobaan bukan di ringankan dalam menjalani cobaan, terkadang ayah dan ibuku bangun tengah malam untuk sholat tahajjud dan Ayahku biasanya menyelipkan sedikit nasihat untuk  Ibuku agar tetap tegar dan bersabar. 
Hari terus berganti, Kehidupan keluargaku Alhamdulillah mulai membaik walau tak sebaik dulu.  Hari itu sangat panas, terdengar suara ketukan dari pintu depan rumah ku,
“Assalamu’alaikum” seperti tak asing lagi ku dengar suara itu, dan ternyata hipotesisku benar, itu adalah pamanku yang selalu menggugat ayahku, yang tega menancapkan Patok bertuliskan “TANAH DIJUAL” didepan rumahku, yang membawa parang ingin mengancam ayahku, sekarang apalagi yang mau dia ambil dari ayahku setelah dia mematikan kehidupanku dan keluargaku,
“Astaghfirullah, Ya Rab maafkan aku, sungguh khilaf hambamu ini”  aku langsung cepat-cepat istghfar  karena sungguh, tak sadar aku telah mencari-cari kejelekan pamanku sendiri, seharusnya aku mengingat kebaikan apa saja yang pernah di perbuat pamanku kepadaku bukan kejelekannya agar tidak menimbulkan rasa benci terhadap paman ku.  Bukankah ISLAM mengajarkan seperti itu, aku pun segera membuka pintu dan menyimpulkan senyuman seikhlas dan semanis mungkin kepada pamanku.  
“Ada apa paman?” tanyaku ramah,
“Ada ayah kah nak” jawab pamanku dengan akrab,
 “Iya ada, silahkan masuk paman, biar ku pangggilkan dulu ayah di dalam”.  Ku suguhi paman ku dengan secangkir teh dan sedikit kue kering.  Aku pun memanggil Ayahku di dalam sambil merasakan cemas,
“Semoga tidak terjadi apa-apa, amiin”.
Setelah beberapa lama pamanku duduk bersama Ayahku, aku pun keluar dan aku melihat senyuman manis dari bibir Ayahku dan aku mendengar samar-samar kata maaf dari pamanku.
“Subhanallah” begitu senang nya aku mendengar, ternyata semua ayat Allah itu benar. Seperti potongan ayat surah al-Insyirah bahwa sesugguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Orang tuaku tetap sabar menghadapi masalah itu serta berusaha untuk menyelesaikannya dan akhirnya di beri kemudahan oleh ALLAH juga.  Pamanku benar-benar datang sendiri meminta maaf, sungguh keajaiban yang datang dari ALLAH SWT, aku sungguh senang melihat keluargaku damai dan tak lupa aku terus mengucap syukur kepada sang pencipta.
“Alhamdulillah”.
“Kukuruyukkk.. “ ayam berkokok menyambut pagi yang indah, aku terbangun melaksanakan sholat subuh berjama’ah dengan keluargaku, setelah sholat Ayah memberi kejutan kepada kami semua,
“Nanti jam 08:00 kalian siap-siap ya, Alhamdulillah kehidupan kita sekarang jauh lebih baik dibanding kehidupan kemarin, itulah makna dari bersabar dan bersyukur, Panen ayam kali ini sangat baik dan untungnya sangat banyak, jadi Ayah ingin mengajak kalian jalan-jalan bersama keluarga besar kita”. 
“yeee,, asik- asik” spontanku dan kakakku Rina serempak.  Rencananya kami akan jalan-jalan ke pantai sambil membakar ayam dan ikan sekaligus membaca doa selamat di sana.  Sebagai wujud syukur dari perdamaian keluarga besar ayahku.
“Subhanallah terasa sekali bahwa Allah itu adil, memberi kesulitan tapi memberi kebahagiaan juga, sungguh aku cinta ISLAM dan sangat mencintai ALLAH SWT”.




Udah dibaca???, gimana?? bagus gak?? kalian pengen gak, buat tegak beginian juga?
Ayolah di coba, gak ada salahnya kan mencoba itu.

 

Ulfah's Blog Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template