Imppianku Masuk SMA Unggulan
Kukuruyukkkk…, begitulah
suara pagi terdengar di gendang telingaku, yang menarikku agar segera bergegas
mandi, shalat subuh, belajar dan segera berangkat ke sekolah. Pukul 07:00 WITA pagi aku sudah berada di
sekolah, duduk diruang kelas III A SMPN 2 Samboja, untuk hari pertama masuk
sekolah setelah hari libur semester 5. Ku
keluarkan buku IPA dari tas selempang cantikku yang berwarna coklat manis, lalu
membolak-balikan halaman beberapa kali tanda tak mengerti dengan apa isi buku
itu karena selama libur sangat jarang membuka buku dan mengulang pelajaran
seperti apa yang pada kenyataannya benar.
Hari libur adalah hari yang sangat istimewa bagi pelajar, sehingga tidak
jarang pelajar menghabiskan waktu liburnya untuk bersantai-santai dan melupakan
semua beban pelajaran. Jadi wajar
sajalah jika hari pertama masuk sekolah setelah hari libur banyak pelajaran
yang terbengkalai.
Jam sudah menunjukkan pukul
07.10 WITA, terlihat teman-temanku datang berangsur-angsur yang masuk ke ruang
kelasku sembari menanyakan kabar,
“Apa kabar fah? Gimana hari liburmu?” Tanya sahabatku Tara yang langsung
mengambil posisi duduk di sampingku.
“Alhamdulillah baik, liburanku biasa saja, bagiku hari libur atau bukan
hari libur, itu sama saja. Aku tetap di
rumah membantu orangtuaku, menurutku itu adalah sesuatu yang mengasyikan,
menghabiskan waktu bersama Ibu di dapur dan membantu membersihkan rumah”
jawabku.
“Ah kamu ini masa gak ada jalan-jalan toh” Tanya tara lagi tak percaya.
“Nah loh? Tenanan tar, aku loh di rumah terus, jalan cuman nyapein badan
jadi malas. Eh tapi saya jalan-jalan
kok, nemenin Ibu ke pasar” gurauku.
“Uhhh dasar, capek deh ngomong sama kamu, eh btw kamu udah makan pagi
belum? kita ke kantin yuk”
“hehe puasa aku bah!”
“eh iya maaf lupa, inikan hari senin sudah menjadi rutinitasmu puasa. Yaudah aku ke kantin dulu”. Tara bergegas pergi meninggalkan ruang kelas.
Tak lama Bell tanda waktu
pelajaran akan di mulai berbunyi, aku pun segara kembali memasukkan buku-buku
yang ku keluarkan tadi dan pergi ke Lab. IPA.
Aku pun masuk dan tak lupa mengucapkan salam, kemudian guruku yang
ternyata sudah berada lebih awal dari pada aku menjawab dengan ramah dan
menyilahkanku masuk.
Setelah semua anggota
kelasku terkumpul Pak Sukro Hariadi guru IPAku membuka pembicaraan. Hari ini ia tidak memberi materi maupun
praktek, karena hari ini hari pertama masuk sekolah ia ingin merefresh otak
kami sekaligus memberi motivasi kepada kami tentang pandangan kedepan untuk
melanjutkan SMA. Pak Sukro adalah guru
yang sangat baik, ia adalah orang yang selalu memotivasi anak didiknya agar
terus maju dan pantang menyerah, dia selalu mengajari anak didiknya dengan
penuh kesabaran, dan ia adalah orang yang tidak pernah menyia-nyiakan waktu,
sangat peduli dengan kemajuan bangsa, aku sangat menyukainya.
Pak Sukro sudah dari tadi
memberi masukkan kepada kami, aku dan teman-temanku mendengarkannya dengan
tenang dan masih belum ada pandangan untuk lanjutan kedepannya ingin masuk SMA
kemana, sampai akhirnya keluar kata UNGGULAN dari ucapan guruku. Hahh? Aku
langsung melongo, dan lebih memerhatikan guruku lagi yang menjelaskan tentang
SMAN 3 Unggulan Tengarong yang ternyata anaknya sekolah disana. Kedengarannya sangat menarik, aku tiba-tiba
langsung berniat untuk melanjutkan sekolah kesana, aku ingin melanjutkan
pendidikan ke sekolah yang berbeda dengan kakakku Rina. Umurku dan dia hanya berbeda 2 tahun tapi
hanya beda 1 tingkatan kelas. Dari SD
aku selalu di sekolahkan di tempat yang sama sampai SMP sehingga aku sangat
berkegantungan dengannya. Aku ingin
mandiri sekarang dan tak mau berkegantungan lagi dengan kakakku.
Teeet tett tet…! Bell itu membuat
Pak Sukro mengakhiri pelajarannya yang diisi dengan banyak motivasi tadi, aku
segera keluar ruang Lab. Dan memikirkan bagaiman caranya agar aku dapat masuk
sekolah ke SMA Unggulan itu.
“Apakah aku bisa sekolah disana? Apakah orangtuaku mampu membiayaiku
sekolah disana? Apakah aku pantas sekolah disana?” bermacam pertanyaan
terombang-ambing di pikiranku.
Aku duduk di kelas dan
tiba-tiba datang Nunu kelas III B menghampiriku,
“Ulfah, kamu lanjut kemana nih setelah SMP?”
“gaktau nih nu, aku bingung. Aku pengen banget lanjut ke sekolah yang
dibilang pak sukro tadi, Sekolah Unggulan, lebih tepatnya SMAN 3 Unggulan
Tenggarong”
“Owhhh… ya ya ya, ehh kebetulan aku juga pengen lanjut kesana, gimana kalo
kita sama-sama aja, katanya yuli dan silfitri teman sekelasku juga pengen
lanjut kesana”
“beneran nu, ayo deh kalo gitu kita sama-sama daftar sekaligus sama-sama
pergi kesananya”
“okee sip ntar deh aku kasih infonya lagi”.
Pulang sekolah aku menunggu
angkot di depan gerbang sekolah, aku bertemu Nunu dan dia memberikan selembar
formulir, betapa senangnya aku, aku pun tersenyum gembira dan langsung
berterimakasih kepada nunu, tapi mendadak senyumku pudar karena nunu masih
bingung siapa yang akan mengantar berkasnya ke Tenggarong nanti. Kami pun sepakat menanyakan kepada orangtua
masing-masing dirumah ada yang bisa atau tidak mengantarkannya. Akupun segera
mendapati angkot dan melambaikan tangan tanda menyetop.
Setelah tiba dirumah aku
pun lansung bertanya pada orang tua ku tentang niatku lanjut ke SMA Unggulan di
Tenggarong, dan orangtuaku pun menyetujuinya walaupun dari raut mukanya masih
terlihat ragu. Setelah mereka
menyetujuinya aku pun bertanya apakah mereka bisa mengantarkan berkas ku dan
teman-temanku ke SMAN 3 Unggulan Tenggarong. Dan ternyata MANTAP, mereka tidak
bisa mengantarkanya, aku pun segera mengirim pesan ke teman-temanku yang ingin
melanjutkan ke sekolah yang sama dengan ku bahwa orang tuaku tidak bisa
mengantarkan berkasnya, dan sebaliknya ternyata mereka membalas pesanku dan
dengan jawaban yang sama bahwa orangtua mereka juga tidak bisa mengantarkan
berkasnya. Akhirnya kami kembali
bersepakat untuk merundingkannya besok di sekolah.
Hari berganti, akupun sudah
berada di sekolah tepat jam seperti kemarin pertama masuk sekolah. Tak lama nunu, yuli dan silfitri datang, kami
pun segera merundingkan masalah kami. 10
menit kami berunding, tiba-tiba Pak Sukro datang menghampiri kami dan beliau
menawarkan bahwa kepsek ingin
mengantarkan berkas ke Tenggarong. Kami
semua tercengang dan hampir tidak percaya.
Ternyata semua yang didasari dengan bersungguh-sungguh itu pasti ada
saja jalannya. Kami pun langsung
menerima tawaran Pak Sukro dan berterimakasih kepada beliau.
Tidak Terasa sudah 2 minggu
setelah berkas itu dikumpul, seleksi berkas sudah keluar dan kami semua lulus,
kemudian kami melihat apa-apa yang harus disiapkan nanti pada masa PSU. Di kertas itu di tuliskan biaya PSU yang
bernilai Rp.400.000,-. Aku kaget dan
bingung harus bagaimana lagi, akhirnya akupun memutuskan untuk menabung sendiri
untuk mengumpulkan uang sebanyak itu, dan aku sangat sangat tidak ingin
merepotkan kedua orangtuaku. Uang saku
yang diberikan kepadaku oleh orangtuaku tak pernah ku belanjakan selama 1 bulan
dan Alhamdulillah uang yang diharapkan sudah terkumpul. Masih ada waktu seminggu sebelum masa PSU,
aku pun semakin bersemangat dan berjuang untuk masuk ke SMAN 3 Unggulan
Tenggarong.
Selama aku tau SMAN 3
Unggulan Tenggarong aku terus berusaha mencari ilmu dengan bersungguh-sungguh
untuk modalku masuk SMAN 3 Unggulan Tenggarong, aku bahkan mencari tempat
dimana ada les b. arab karena aku mendengar bahwa SMAN 3 Unggulan Tenggarong
juga mempelajari b. arab dan aku sama sekali tidak mengetahui b. arab karena
disekolahku tidak mempelajari b, arab.
Pagi jam 7 aku berangkat sekolah setelah itu jam tambahan sekolah sampai
Ba’da ashar, kemudian aku melanjutkan lagi sekolah di Madrasah Dinniyah
kumpulan Madura untuk belajar agama disana terutama b. arabnya yang ku pelajari
dengan sungguh-sungguh sekali.
Matahari berada tepat di
atas menunjukkan Tengahnya hari, tepat 3 hari sebelum PSU, aku, nunu, yuli, dan
silfitri berdiskusi lagi mengenai transportasi yang akan di gunakan ke SMAN 3
Unggulan Tenggarong nanti.
“gimana kalo kita nyarter aja, tadi aku ketemu sama ibu TU bu prapti, nah
anak dan teman anaknya ternyata juga mau masuk sekolah yang sama seperti kita,
terus ibu nawarin mau gak, nyarter bareng jadi bayar ongkos transportasinya gak
terlalu besar, ongkosnya sekitar 80 Rb kalo kita ikut nyarter, gimana? Kalian
setuju gak?” Tanya temanku nunu.
“Iya kami setuju, gak’ ada pilihan lain lagikan selain itu?” jawab yuli
dan silfitri.
“tapii?? Hm aku gak tega kalo harus
minta uang sama orangtuaku, gimana dong? Hm tapi yaudah deh tega gak, tega
harus minta karena aku gak mungkin ngumpulin uang saku sebanyak 80 rb dalam
waktu 3 hari” jawabku.
“Okee jadi kita semua sepakat ya,nanti saya bilang ke Ibu praptinya
deh”jawab nunu.
Hari yang di
tunggu-tunggupun tiba seminggu sebelum UN berlangsung kami mengikuti test di
SMAN 3 Unggulan Tenggarong. Kami pun
sampai di sekolah yang di tuju,
“wah bagus sekali sekolah ini? Semoga ini benar-brenar bisa menjadi
sekolahku amiin” responku melihat sekolah nan indah dan megah. Aku dan teman-temanku segera turun dan ke
resepsionis untuk mendaftar. Aku
mendapat kamar 23 sekamar dengan Yuli, Rizki anaknya Ibu prapti dan teman
anaknya yaitu Annisa. Sedangkan Nunu mendapat
kamar 16 bersama dengan Silfitri, dan teman test dari marangkayu yaitu Novita
dan Emil. Kami semua istirahat dan
segera menyimpuni barang-barang kami, tak terasa sudah malam, kami pun mengisi
waktu malam dengan belajar dan pagi untuk menjalani test, begitu pula
seterusnya selama seminggu test.
Test Kesmaptaan menurutku
adalah test yang paling berat, aku harus berlari mengelilingi sekolah SMAN 3
Unggulan Tenggarong sebanyak-banyaknya.
“Ayo dek, lari dek. Ingat orangtua dirumah dek, kamu pengen orangtua kamu seneng
kan? Ayo dek! Terus lari demi orang tua kamu”.
Suara teriakan anak OSIS SMAN 3 Unggulan Tenggarong membuatku yang
tadinya tak bisa menjaga keseimbangan lagi terus berlari sambil memjamkan mata
karena sudah merasa melayang. Aku terus
melangkahkan lariku sekuat tenagaku dan semampuku dan akhirnya peluit di bunyikan
tanda berlari harus di berhentikan, Alhamdulillah aku hampir mengelilingi
sekolah sebanyak 5 putaran.
Setelah istirahat sebentar,
test di lanjutkan lagi dengan pull up, push up, sit up, dan shuttle run atau lari
angka 8. Alhamdulillah semua ku jalani
dengan lancar dan dengan jumlah score yang dapat di bilang cukup banyak, untuk
push up aku adalah peserta perempuan yang push up terbanyak, sebanyak 50 kali
dalam waktu semenit, setelah itu aku terasa tak bisa lagi berjalan karena semua
energy ku sudah habis. Akupun memutuskan
untuk istirahat sebentar dan setelah energy mulai memulih setelah meminum air
putih aku pun kembali ke asrama. Aku
langsung mandi dan segera tidur di asrama dengan waktu yang lumayan lama. Ba’da Ashar aku segera membereskan semua
barang-barangku persiapan pulang untuk besok.
Pagi menjelang siang terlihat
angkot kol handil berwarna putih yang di janjikan sudah menjemputku dan
teman-temanku. Sebenarnya aku sedikit
sulit beradaptasi dengan kol handil karena baunya yang memabukkanku, tapi demi
SMAN 3 aku harus bisa, karena yang bisa di sarter hanya tinggal itu dan
mengingat biayanya juga yang tidak terlalu mahal seperti mobil yang kemarin,
aku pun menyetujuinya. Tidak perlu malu
menaiki kendaraan itu, toh dengan apapun pulangnya sampai juga tetap ke tempat
tujuan yang sama. Aku di bantu dengan
pak supir dan anak OSIS mengangkat barang-barangku ke dalam bagasi mobil. Setelah itu aku dan teman-temanku kembali ke
resepsionis untuk bertanda tangan bukti
tanda sudah pulang dan berterimakasih kepada OSIS.
Mobil yang kami tumpangi
mogok di perjalanan berkali-kali, sehingga perjalanan pulang kami sedikit
terganggu, tapi Alhamdulillah kami semua sampai
di rumah dengan selamat. Aku
segera beristirahat setelah sampai dirumah, kemudian ba’da Ashar aku langsung
membereskan rumah yang terlihat sangat sangat berantakan.
Setelah 1 minggu aku
menginjakkan kakiku di SMAN 3 Unggulan
Tenggarong, akhirnya hari ini aku menginjakkan kakiku lagi di SMPN 2
Samboja dan siap mengikuti UN. UN
berlangsung selama 4 hari. 2 minggu setelah UN, Hasil kelulusan Test SMAN 3
Unggulan Tenggarong pun keluar. Dan begitu senangnya aku ketika melihat namaku “SITI NUR ULFAH” dari SMPN 2 Samboja
tercantum di tabel kelulusan itu. Tapi
aku sangat sedih karena teman-temanku yang lain tidak lulus, akupun menguatkan
mereka agar tetap semangat dan tidak putus asa karena masih banyak tentunya
sekolah lain yang mau menerima mereka.
Teman-temanku pun
memberikan ucapan selamat kepadaku, dan guru-guruku pun juga memberikan ucapan
selamat kepadaku. Aku sangat senang mereka semua bangga denganku. Aku senang sekali karena apa yang sudah aku
perjuangkan selama ini gak, sia-sia. Aku
hijrah mencari ilmu kadang sampai lupa dengan makan gak, sia-sia, waktuku yang
seharusnya untuk istirahat tapi kugunakan untuk belajar sekarang tergantikan
oleh kebahagiaan sekarang. Tak sia-sia doaku selama ini karena telah terjawab
semuanya oleh ALLAH SWT. Akhirnya aku masuk ke sekolah Unggulan,
impianku sejak SD.
“Ternyata bersungguh-sungguh itu tak jarang semuanya akan SUKSES, man jadda
wa jadda”.
